Monday, 30 August 2021

Eksistensi Qalbu (Hati) didalam Diri Manusia: Untuk Mengetahui Kedudukan Hati

 Eksistensi qalbu dalam diri manusia adalah sebagai wadah yang menampung, mengatur dan memerintah segala keinginan manusia. Ia juga sebagai tempat Iblis dan setan menggoda dan menyuruh manusia berbuat kejelekan. Ia juga menjadi tempat bagi Allah memberikan sesuatu untuk memlihara. Allah swt. berfirman: 

يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّمَنْ فِيْۤ اَيْدِيْكُمْ مِّنَ الْاَ سْرٰۤى ۙ اِنْ يَّعْلَمِ اللّٰهُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ خَيْرًا يُّؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّاۤ اُخِذَ مِنْكُمْ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya:

“Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah Dia ambil dari padamu, dan Dia akan mengampuni kamu”. (Q.S. al-Anfal [8]: 70).

Maka hati yang selalu condong kepada Allah senantiasa berada dalam bimbingan dan pengawasan Allah swt. Karenanya, selalu bersih dan selalu melahirkan sikap terpuji, akhlak, kepribadian, ketenangan, ketentraman, kenyamanan dan kebahagiaan hidup di dunia serta akhirat.

Senada dengan penjelasan di atas, Abdurrahman Idrus Lasyarie menyebutkan bahwa keberadaan hati ialah sebagai pusat kebahagiaan seseorang, sebagai tombol pengontrol dan sebagai tempat kehidupan, sebagai tempat untuk bersyukur atau merasa syukur atas rezeki yang Allah swt. berikan dan menjadi tempat untuk merasakan kebahagiaan, santun atau kasar, mulia atau hina. Tetapi, ia juga bisa  berperan sebagai tempat munculnya rakus (gelojoh; apa saja dimakan) dan segala bentuk keburukan lainnya.


Oleh karena itu, qalbu dapat menyelamatkan dan bisa pula mencelakakan. Hati yang kotor akan melahirkan perbuatan kotor, sebaliknya hati yang suci akan membimbing pada perbuatan yang baik. Nah, perlu diketahui bahwa semua yang dilakukan oleh hati akan dimintai pertanggung jawaban. Allah swt. berfirman:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِا للَّغْوِ فِيْۤ اَيْمَا نِكُمْ وَلٰـكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوْبُكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ

Artinya:

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud untuk bersumpah, tetapi Allah menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang disengaja untuk bersumpah oleh qalbu kamu. dan Allah Maha Penyantun ” (Q.S. al-Baqarah [2]: 225).

Sumpah yang disengaja berdasarkan niat hati, jika niat hati yang diungkapkan dari sumpah itu benar maka diri akan  menjadi selamat. Sebaliknya, jika itu sumpah palsu, namun lahir dari niat hati maka akan mendapat siksalah diri.


Qalbu adalah wadah yang selalu menampung segala macam persoalan hidup, dia yang merasakan, dia yang khawatir, dia yang dikenai celaan dan dia yang mengenal. Sesungguhnya manusia siap untuk mengenal Allah swt. dengan hatinya tidak dengan salah satu anggota badannya, hatilah yang selamat dari Allah swt., dan sesungguhnya anggota badan hanyalah pengikut, pelayan dan alat yang dipekerjakan oleh hati dan pakainnya sebagaimana pemilik memakai hamba sahayannya dan sebagaimana pemimpin mempekerjakan rakyatnya.

Qalbu juga menjadi tempat yang dikuasai Allah swt. dimana Allah swt. dapat mendindingnya. Sebagaimana Allah swt. berfirman:

 ۚ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَ نَّهٗۤ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ

Artinya:

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya” (Q.S. al-Anfal [8]: 24).

Makna ayat ini menurut yang saya pahami adalqh bahwa Allah swt. menguasai qalbu manusia, agar mereka yang merasakan kegundahan dan kesulitan dapat memohon bantuan kepada-Nya untuk menghilangkan kerisauan dan kegundahan yang ada didalam qalbu yang dideritanya. Ayat di atas sepadan dengan firman Allah swt:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ 

Artinya:

 “yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” (Q.S. ar-Ra’du [13]: 28).


Berdasarkan penjelasan ini, dapat dipahami bahwa qalbu adalah wadah yang mampu menampung ketenangan. Namun, ketenangan yang didapatkan itu bersumber dari kedekatannya kepada Allah swt.

Sebaliknya, jika manusia jauh dari mengingat Allah, maka hati menjadi wadah bagi setan untuk menguasainya. Sehingga, kecenderungan perilaku yang diperbuatnya senantiasa berujung pada kerugian semata.

Wednesday, 25 August 2021

Contoh-Contoh Waqof: Supaya Mudah Mempraktekkan dan Mengetahui Cara Membacanya

 Pada link ini https://www.aninlihi.com/2021/08/tanda-tanda-waqof-dan-pengertiannya.html?m=1. telah dibahas pengertian dan makna-makna waqof. Nah, pada uraian artikel ini khusus membahas contoh-contoh waqof yang disesuaikan dengan jumlah waqof yang telah dijelaskan. Adapun uraian contoh-contoh waqof adalah sebagai berikut:

1. Waqof Laazim

وَاِ لٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا ۘ قَا لَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوْا اللّٰهَ مَا لَـكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗ قَدْ جَآءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ ۗ هٰذِهٖ نَا قَةُ اللّٰهِ لَـكُمْ اٰيَةً فَذَرُوْهَا تَأْكُلْ فِيْۤ اَرْضِ اللّٰهِ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْٓءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ

"Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di Bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 73).

لَـقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَا لُوْۤا اِنَّ اللّٰهَ ثَا لِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّاۤ اِلٰـهٌ وَّا حِدٌ ۗ وَاِ نْ لَّمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ

"Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 73).

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۘ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ كُلُّ شَيْءٍ هَا لِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَـهُ الْحُكْمُ وَاِ لَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

"Dan jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan." (QS. Al-Qasas 28: Ayat 88).



2. Waqof Mutlaq

Khusus untuk Waqof Mutlaq, tanda to. 



3. Waqof Jaaiz

وَا لَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَاۤ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِا لْاٰ خِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ 

"dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 4).

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِى اسْتَوْقَدَ نَا رًا ۚ فَلَمَّاۤ اَضَآءَتْ مَا حَوْلَهٗ ذَهَبَ اللّٰهُ بِنُوْرِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِيْ ظُلُمٰتٍ لَّا يُبْصِرُوْنَ

"Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 17).

وَا لْوَزْنُ يَوْمَئِذِ ٱِلْحَـقُّ ۚ ثَقُلَتْ مَوَا زِيْنُهٗ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

"Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka, barang siapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung," (QS. Al-A'raf 7: Ayat 8).



4. Waqof Mujawwazun


5. Waqof Murokhosun


6. Qiila 'Alaihi Waqfun


7. Tholabul Waqfi


8. 'Adamulwaqfi

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ ۙ فَزَا دَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًا ۚ وَلَهُمْ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ ۙ بِۢمَا كَا نُوْا يَكْذِبُوْنَ

"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta."(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 10).

حَتّٰۤى اِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمَا قَوْمًا ۙ لَّا يَكَا دُوْنَ يَفْقَهُوْنَ قَوْلًا

"Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung, didapatinya di belakang (kedua gunung itu) suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan."(QS. Al-Kahf 18: Ayat 93).

9. Washlul Uulaa

وَ تَحْسَبُهُمْ اَيْقَا ظًا وَّهُمْ رُقُوْدٌ ۖ وَنُـقَلِّبُهُمْ ذَا تَ الْيَمِيْنِ وَ ذَا تَ الشِّمَا لِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَا سِطٌ ذِرَا عَيْهِ بِا لْوَصِيْدِ ۗ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَا رًا وَّلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

"Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidur; dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka, tentu kamu akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka." (QS. Al-Kahf 18: Ayat 18)


10. Mu'aanatun

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ  ۛ  فِيْهِ  ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ 

"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa," (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 2).

طَعَا مُ الْاَ ثِيْمِ  

كَا لْمُهْلِ  ۛ  يَغْلِيْ فِى الْبُطُوْنِ

"makanan bagi orang yang banyak dosa." (QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 44). "Seperti cairan tembaga yang mendidih di dalam perut,"(QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 45).

11. Waqful Uula

وَكَذٰلِكَ بَعَثْنٰهُمْ لِيَتَسَآءَلُوْا بَيْنَهُمْ ۗ قَا لَ قَآئِلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۗ قَا لُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۗ قَا لُوْا رَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ ۗ فَا بْعَثُوْۤا اَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هٰذِهٖۤ اِلَى الْمَدِيْنَةِ فَلْيَنْظُرْ اَيُّهَاۤ اَزْكٰى طَعَا مًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِّنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ اَحَدًا

"Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, "Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?" Mereka menjawab, "Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari." Berkata (yang lain lagi), "Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali menceritakan halmu kepada siapa pun."(QS. Al-Kahf 18: Ayat 19).

قَا لُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَّنَا مَا هِيَ ۗ قَا لَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا فَا رِضٌ وَّلَا بِكْرٌ ۗ عَوَا نٌۢ بَيْنَ ذٰلِكَ ۗ فَا فْعَلُوْا مَا تُؤْمَرُوْنَ

"Mereka berkata, "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu." Dia (Musa) menjawab, "Dia (Allah) berfirman bahwa sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 68).

12. 'Ain

Untuk contoh 'ain dalam pembahasan ini, lihat pada gambar dibawah ini:


13. Mutoobaqatul Waqfi


14. Saktah

قَا لُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا   ۜ  هٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ

"Mereka berkata, "Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?" Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah rasul-rasul-Nya."(QS. Ya-Sin 36: Ayat 52).

وَقِيْلَ مَنْ   ۜ  رَا قٍ 

"dan dikatakan (kepadanya), "Siapa yang dapat menyembuhkan?"(QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 27)

كَلَّا بَلْ   ۜ  رَا نَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka." (QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 14)


Monday, 23 August 2021

Tanda-Tanda Waqof dan Pengertiannya: Agar Tidak Sembarang Berhenti Membaca Saat Membaca ayat al-Qur'an

Pembahasan waqof dibawah ini lebih kental mengurai tentang fungsinya. Paling penting juga bukan mengetahui arti harfiahnya. Tetapi arti pemakainnya. Ini seharusnya yang perlu dipahami. Sehingga ketika menemukan tanda  berhenti jika harus berhenti atau lanjut jika menemukan waqof yang bisa lanjut. Perhatikan uraian waqof di bawah ini:

aninlihi.com

1. Waqof Laazim

Jika seseorang membaca al-Qur'an lantas menemukan waqof jenis ini, dia harus  berhenti. Dilazimkan untuk berhenti. Pada waqof ini seseorang berkesempatan untuk mengambil nafas sebelum melanjutkan ayat sebelumnya.

Harus Berhenti

وَقْفُ لَّازِمِ

Tanda م

Peringatan: bukan termasuk mim pada bacaan iklab

2. Waqof Mutlaq

Maksudnya ketika kita bertemu dengan waqaf ini lebih utama atau lebih baik berhenti walaupun nafas masih kuat.

Lebih baik berhenti meskipun nafas masih kuat

وَقْفُ الْمُطْلَقُ

Tanda ط

3. Waqof Jaaiz

Maksudnya bisa lanjut, tapi lebih baik berhenti.

Lebih baik berhenti

جَائِزٌ

Tanda  ج

4. Waqof Mujauwwazun

Ketika bertemu dengan waqof ini kita boleh berhenti. Tetapi, sebaiknya dilanjutkan jika nafas masih kuat.

Lebih baik terus jika nafas masih kuat

وَقْفْفُ مُجَوَّزٌ

Tanda  ز

5. Waqof Murokkhosun

Jika bertemu dengan tanda ini, maka alangkah bagusnya dilanjutkan.

Lebih baik dilanjutkan jika nafas masih kuat

وَقْفُ مُرَ خَّسٌ

Tanda ص

6. Qiila ‘Alaihi Waqfun

Jika bertemu dengan waqof ini seseorang boleh berhenti ketika membaca qur’an, namun diteruskan justru lebih bagus.

Boleh berhenti tapi lebih baik diteruskan

قِيْلَ عَلَيْهِ وَقْفٌ

Tanda ق

7. Tholabul Waqfi

Apabila seseorang membaca al-Qur’an lalu bertemu dengan tanda ini, maka dianjurkan untuk berhenti.

Lebih baik berhenti

طَلَبُ الْوَقْفِ

Tanda  قف

8. ‘Adamul Waqfi

Jika bertemu dengan tanda ini ketika membaca al-Qur’an maka harus dilanjutkan bacaannya. Kalau nafas tidak sampai boleh diulang dari tengah sesuai tempat pengulangannya. 

Tidak boleh berhenti

عَدَمُ الْوَقْفِ

Tanda  لا

9. Washlul Uulaa

Apabila seseorang membaca qur’an lalu bertemu dengan tanda ini maka dianjurkan untuk melanjutkan bacaannya.

Lebih baik diteruskan

اَلْوَ صْلُ الْأُوْلَى

Tanda صلى

10. Mu’aanatun

Jika seseorang membaca qur’an lantas menemukan titik tiga maka harus berhenti disalah satu tanda yang tiga tersebut. Kemudian lajutkan bacaan.

Berhenti disalah satu tanda titik tiga

مُعَا نَةٌ   

11. Waqful Uula

Jika membaca al-Qur’an kemudian menemukan tanda ini, maka alangkah bagusnya berhenti.

Lebih baik berhenti

اَلْوَقْفُ الْأُوْلَى

قلى

12. ‘Ain

Tanda ini merupakan tanda ruku’, juga diartikan tanda akhir surat atau ayat tertentu.

Tempat ruku’ atau berhenti

Tanda ع

13. Mutoobaqatul Waqfi

Mengikuti waqof sebelumnya

ك لك

مُطَا بَقَةُ الْوَ قْفِ

ك  

14. Saktah

Seseorang dianjurkan untuk berhenti sejenak jika membaca lantas menemukan tulisan saktah pada ayat. Berhenti tanpa nafas sejenak.

Berhenti sejenak tanpa nafas

Tanda سكتة

Demikian beberapa tanda waqof, semoga ada kemudahan mengetahui tempat-tempat berhenti ketika membaca al-Qur'an. Semog bermanfaat. Adapun contoh-contoh waqof akan diuraikan pada pembahasan berikutnya. Insya Allah.

Oleh: Anin Lihi


Friday, 20 August 2021

Sifat-Sifat Yang Merusak Qalbu: Agar Hati Bresih Hindari Penyakit Ini

Sumber gambar: Facebook.com

Seseorang tidak akan pernah melakukan satu kebaikan jika qalbunya tidak terdapat kebaikan sedikitpun, yang mana kebaikan itu yang mendorongnya untuk berbuat baik. Sesungguhnya kebaikan itu akan melahirkan kebaikan yang lain.

‘Urwah bin Zubair ra. Mengabarkan bahwa, jika kamu melihat kebaikan maka ketahuilah bahwa kebaikan itu mempunyai saudara yang lain, dan jika kamu melihatnya melakukan keburukan maka ketahuilah bahwa keburukan itu masih mempunyai saudara yang lain, hal itu dikarenakan keburukan yang satu akan menunjukan kepada keburukan yang lain dan kebaikan yang satu akan menunjukan kebaikan yang lain.

Ada beberapa hal yang cenderung merusak kepribadian seseorang:

Buruk sangka

Buruk sangka merupakan energi tertentu yang tumbuh di dalam hati, sifat ini sangat tercela dan merupakan dosa. buruk sangka harus dihilangkan dari dalam hati dengan sekuat tenaga. Karena prasangka yang tidak baik membuat orang senantiasa curiga terhadap orang  lain, bahkan juga terhadap Allah swt. Buruk sangka merupakan jalan Setan agar mudah menggoda dan menggelincirkan manusia, bukankah Iblis telah berjanji untuk menggoda dan menjerumuskan pada jurang kebinasaan. Hal ini sebagaimana Allah swt. berfirman:

فَاَ زَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَ خْرَجَهُمَا مِمَّا كَا نَا فِيْهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚ وَلَـكُمْ فِى الْاَ رْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَا عٌ اِلٰى حِيْنٍ

Artinya: “lalu keduannya digelincirkan oleh Setan dari surga itu dan dikeluarkan mereka dari tempat yang sebelum keduanya berada di dalamnya”. (Q.S. al-Baqarah [2]: 36).

Adam dan Hawa dengan tipu daya Setan memakan buah pohon yang dilarang Allah swt., yang mengakibatkan keduanya keluar dari Surga, dan Allah swt. menyuruh mereka turun ke dunia. 

Hasad ( Dengki )

Dengki ialah perasaan marah (benci, tidak suka) karena cemburu. Menurut KH. Abdullah Zakiy al-Kaaf; hasad dan dengki memiliki cabang yang dinamakan syuh ( kikir yang bersangatan) syuh ini lebih buruk dari sifat bakhil (Pelit). Orang yang bersifat bakhil terlalu cinta kepada harta yang dimilikinnya sehingga tidak rela hartannya jatuh ketangan orang lain.  Orang yang memiliki sifat merasa tidak tenang ketika melihat orang lain diberikan karunia oleh Allah swt. Baik berupa ilmu, harta, maupun pangkat dan sebagainya. Pemikirannya ingin agar apa yang dimiliki orang lain itu hilang. hal ini sebagaimana diungkapkan Ulama Salafus Saleh bahwa, sesungguhnya permulaan dari kekeliruan ialah kedengkian. Iblis dengki kepada Nabiyullah Adam a.s. karena kedudukan yang diperolehnya, sehingga menyebabkan Iblis tidak mau menghormatinya ketika diperintah oleh Allah swt.

Orang yang mempunyai hasad (dengki) tidak akan memperoleh sesuatupun dari manusia terkecuali celaan dan hinaan, sedangkan Malaikat melaknatinya dan Allah swt. kelak pada hari kiamat tidak akan memberikan sesuatu kecuali malu dan siksa.

Sifat ini merusak dan menghilangkan amal seseorang kelak di akhirat. Ibarat kayu yang dilahap api, kemudian menjadi abu yang diterbangkan angin. Hilang dan hangus seluruh amal kebaikan. Tak bermanfaat sama sekali bagi keselamatan diri dihadapan Allah swt.


Riya’ ( Pamer )

Riya’ (Merasa bangga karena telah berbuat baik). Ibnul Qayyim menjelaskan riya’ ialah memamerkan sesuatu yang melahirkan pujian atau cinta pujian dan popularitas hal ini sangat merusak qalbu.

 ‘Ujub ( bangga diri atau merasa lebih utama dari pada orang lain )

‘Ujub serta sombong merupakan penyakit hati yaitu orang yang menganggap dirinya lebih atau paling tinggi, bahkan mulia, paling agung bahkan menganggap orang lain hina. 

Ibnu al-Mubarak mendefinisikan ‘ujub dengan mengatakan “ujub adalah engkau merasa pada dirimu terdapat sesuatu kelebihan yang tidak dipunyai orang lain.” 

Kemarahan, Hawa nafsu lingkungan, cinta dunia, dan Setan.

Kemarahan dan hawa nafsu, lingkungan, kepentingan duniawi dan Setan jika menguasai hati, maka ini akan berdampak pada rusaknya kepribadian manusia, jika hal ini dapat di tentang dan di cegah niscaya  kekuatan–kekuatan jiwa menjadi lurus dan akhlaknnya menjadi baik atau kepribadiaanya menjadi unggul.

Jamaluddin Kafie menjelaskan ada empat tingkatan nafsu dalam tubuh manusia:

1. Nafsu mementingkan diri dan jahat ( nafsu amarah ).

2. Nafsu menipu diri ( nafsu musawwilah ).

3. Nafsu menyesali diri ( nafsu lawwamah )

4. Nafsu kebintangan ( nafsu sab’iyah ).

Barang siapa yang mengikuti jalan ini maka ia seperti orang yang difirmankan Allah swt:

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ وَاَ ضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةً ۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

Artinya:

“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran” (Al-jaasiyat [45]: 23).

Maksudnya Allah swt. membiarkan orang itu sesat, karena Allah swt. telah mengetahui bahwa dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.

Dan jika seseorang mampu menahan hawa nafsunya maka ia adalah termasuk orang yang takut akan Allah swt. Sebagaimana Allah swt. berfirman:

وَاَ مَّا مَنْ خَا فَ مَقَا مَ رَبِّهٖ وَ نَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى 

يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ السَّا عَةِ اَيَّا نَ مُرْسٰٮهَا 

Artinya:“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”. (An-naazi’at [79]: 40-41).


Rusaknya kepribadian manusia itu dikarenakan hawa nafsu dan kemarahan menguasai hati, olehnya itu kita memohon kepada Allah swt. untuk memberikan kebagusan petunjuk dalam melatih diri sehingga terhindar dari rusaknya kepribadian kita karena nafsu syahwat amarah yang tertanam di dalam hati.

Beberapa perkara di atas menurut Abdul Hamid al-Bilali dapat dibendung jika seseorang melakukan ketaatan untuk menundukan diri dari hawa nafsu dan melakukan peribadatan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: seorang muslim membutuhkan rasa takut kepada Allah swt., bila hawa nafsu muncul dalam dirinya maka ia harus mengekang karena itu bagian dari ibadah kepada Allah swt. Ibnu Qayyim al-Jauziah menjelaskan bahwa, untuk seseorang agar selamat dari prasangka–prasangka dan keyakinan yang tidak baik maka seseorang harus menempuh jalan–jalan menuju Ma’rifatullah sehingga dia dapat menyembahnya menuju kecemerlangan. Ada dua jalur yang harus ditempuh: pertama; bersikap sesuai dengan nash – nash wahyu tentang sifat–sifat Allah swt. dan Asma-Nya. Kedua; Jalan untuk mengenal Tuhan dengan segala sifat-Nya adalah dengan membuktikan ciptaanNya.

Thursday, 19 August 2021

Sifat-Sifat Huruf yang Berlawanan dan yang Tidak Berlawanan: Agar Semakin Lembut Membaca al-Qur'an


Jumlah sifat yang telah diuraikan itu ada 19 dan terbagi dua sifat. Sifat yang berlawanan dan sifat yang tidak. Sifat yang berlawanan ada 10 dan sifat yang tidak berlawanan ada 9. 

19 sifat huruf ini, digolongkan menjadi dua bagian. Yaitu:

- Sifat Qawiy (sifat-sifat huruf yang kuat. Dibaca tebal, berat, nafas tertahan karena harus mengangkat lidah. 

- Sifat Dha’if (Sifat-sifat huruf yang lemah. Huruf-hurufnya dibaca ringan, udara bebas keluar, dan dibaca tipis. Karena tidak harus mengangkat lidah. 

1. Sifat Huruf yang berlawanan

جَهْرٌ     (Terang)

هَمْسٌ   (Samar)

شِدَّهْ     (Kuat)

رَخَاوَةٌ   (Lemah)

إِسْتِعْلَاءٌ  (Terangkat)

إِسْتِفَالُ   (Ke bawah)

إِطْبَاقُ    (Melekat)

إِنْفِتَاحُ    (Terbuka)

إِصْمَاتُ   (Menahan)

إِذْلَاقُ     (Ujung)

2. Sifat -sifat huruf yang tidak berlawanan

قَلْقَلَةُ     (pantul)

ق ط ب ج د

لَيْنٌ (lembut)

و وْ، ي يْ

صَفِيْرٌ    (desis)

ص ز س

تَوَسُّطُ (sedang)

لَنْ غمر

إِنْحِرَافُ (goncang)

ل  ر

تَكْرِيْرِيْ (getar)

ر

إِسْتِطَالَةُ (memanjang)

 ض

تَفَشِّيْ (Tersiar)

ش

Bukan sewaktu dibaca idzhar

غَنَّةُ (dengung)

مْ  نْ      ً ٍ ٌ ( tanwin)

Perhatikan Gambar Tabel Sifat Huruf Yang Berlawanan dan Yang Tidak Berlawanan di bawah ini:


Perhatikan pada tabel gambar di atas dengan seksama, lalu resapi dalam ingatan. Sambil sesuaikan dengan pembahasan yang ada disini. https://www.aninlihi.com/2021/07/sifat-sifat-huruf-pengertian-umum-dan.html?m=1.

Jangan lupa, pelajari dulu magharijul huruf tempat-tempat keluar huruf dengan baik sebelum mempelajari kedua sifat huruf ini. Link maghroj huruf lihat disini. https://www.aninlihi.com/2021/07/makhaarijul-huruf-tentang-asyfatain-dua.html?m=1. Dan pada link ini juga. https://www.aninlihi.com/2021/07/makhaarij-al-huruf-tempat-tempat.html


Tuesday, 17 August 2021

Menjauhi Minuman Keras, Judi dan Kekerasan: Untuk Sehat Jasmani Rohani, Tentram dan damai

  

Islam berasal dari kata aslama, yuslimu, islaaman, yang berarti selamat, tunduk dan patuh. Arti ini sangat berhubungan dengan aturan dan norma agama. Maka, orang yang menginginkan keselamatan diri, keluarga dan negara harus tunduk dan patuh pada  aturan, norma dan norma agama. Umat Islam, memiliki kewajiban untuk patuh pada perintah dan larangan yang telah ditetapkan oleh Allah dalam agama Islam. Perintah dan larangan Allah sangat banyak, diantaranya perintah berkasih sayang dan larangan melakukan kekerasan.

Sumber kekerasan berasal dari kejahatan dan sumber kejahatan salah satunya berasal dari minuman keras. Bahkan Rasululullah Saw menyebut minuman keras dengan "ummul khobaaits" induk dari segala kejahatan. Karena itulah, Islam begitu tegas melarang mengonsumsi minuman keras. Artinya perbuatan meminum khamar adalah HARAM.

Nabi Saw bersabda: Setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap yang memabukkan adalah haram. (HR. MUSLIM). 

Meminum khamar termasuk perbuatan keji, dengannya setan bermaksud menanamkan permusuhan dan kebencian. Sehingga bisa saja kekerasan itu berakhir dengan perbuatan saling membunuh satu sama lain.

Sementara Allah sangat melarang perbuatan membunuh. Dan orang yang membunuh diancam oleh Allah. Sesama muslim tidak boleh saling membunuh. Justru mereka harus saling menghormati. Sebab, nilai orang muslim begitu besar. Rasulullah Saw tegas dalam haditsnya.

Artinya: Dari al-Bara bin Azib, Sesungguhnya Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Kehancuran dunia (nilainya) lebih ringan di sisi Allah dari pada seseorang membunuh seorang mukmin tanpa hak." (HR. Ibnu Majah).

Bayanyangkan dunia yang begini besarnya, didalamnya ada emas, permata, ada mutiara, ada apartemen, ada hotel, ada segala macam fasilitas mewah, dan masih banyak lagi fasilitas menarik lainnya. Namun, nilainya kecil, walau ia hancur dan tenggelam dari alam semesta, nilai manusia mukmin tetap masih lebih besar. Semua isi dunia itu tidak memiliki nilai apa-apa di mata Allah. Karena itu, jauhilah sumber kejahatan dan kekerasan. Jauhi minuman keras. Agar kita jauh dari sikap jahat dan kemungkinan membunuh. 

Sementara penelitian kesehatan menunjukan bahwa minuman keras berdampak merusak jaringan otak dan menimbulkan penyakit hati. (http//:eprints.ums.ac.id). Bayangkan, hati yang sehat dan otak yang cemerlang jadi rusak syaraf-syarafnya. Tentu secara kesehatan, rusak yang dimaksud rusak hati dan otak jasmani, yang sifatnya kasat mata. 

Adapun dari sisi agama minuman keras tentu lebih berbahaya lagi dampaknya. Menggelapkan hati, merusak akhlak, meracuni pikiran dan memudahkan jalan godaan setan. Rusaknya rusak rohani. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَا لْبَغْضَآءَ فِى الْخَمْرِ وَا لْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ ۚ فَهَلْ اَنْـتُمْ مُّنْتَهُوْنَ

"Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan sholat, maka tidakkah kamu mau berhenti?" (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 91) * Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com.

Ada beberapa pelajaran yang dapat dipahami dari ayat ini, antara lain. 

Pertama: Setan mudah mempengaruhi peminum khamar dan judi untuk melakukan permusuhan dan menebar kebencian. Tahukah kita bahwa orang yang membenci seseorang pasti mencari berbagai cara untuk melakukan kekerasan pada orang yang dibencinya dan bahkan bisa pada tingkat membunuh. Sebab musuh tak akan pernah menginginkan kebaikan pada lawannya. Setan adalah musuh yang nyata (innahu lakum 'aduwwummubiin). Maka "fajtanibuhu" jauhi dia. 

Kedua: Minuman keras dan judi sebagai jalan untuk menghalangi jalan mudah seseorang mendekatkan diri kepada Allah. Menjadi sulitlah seseorang dekat dengan Allah. Sebab, suatu perbuatan keji dan kotor tidak diaukai dan sangat dibenci oleh Allah. Allah suci dan senang terhadap kesucian. Jadi yang kotor dan yang najis secara fitrah tidak mungkin bisa dalam satu tempat yang sama. Ini terinspirasi dari alasan bahwa "attuhuru syatrul iiman" suci adalah bagian dari iman.

Ketiga: Minuman keras dan judi sebagai jalan membuat seseorang malas untuk melaksanakan sholat. Bagaimana tidak, setan sudah memperdayakannya. Yang paling didengar bukan lagi nasehat Allah. Tapi, nasehat setan laknatullah. Na'udzùbillah. Karena itu, walaupun adzan dikumandangkan disamping telinganya, dianggapnya seruan ysng tak penting. 

Terhadap minuman keras kita harus siaga satu agar ingatan kita kepada Allah tidak terganggu. Jangan pernah mencoba untuk menyentuhnya, supaya tidak timbul kebiasaan yang menjadi candu. Jika ini terjadi, sulit rasanya dihilangkan. Karena itu, sekali lagi  jangan pula mencoba-coba.

Jelas sekali bahaya minuman keras dan judi. Keduanya ditulis oleh Allah dalam ayat yang sama dan berdekatan urutannya. Keduanya, sama-sama berfungsi merusak. Kemungkinan besarnya, kalau orang sudah suka meminum minuman keras berarti suka juga dengan judi. Atau sebaliknya kalau sudah suka judi, pasti mengonsumsi minuman keras juga. 

Universitas Melbourne, Australia pernah melakukan penelitian tentang judi. Penelitian itu menyimpulkan bahwa hampir setengah dari anggota keluarga yang memiliki kebiasaan berjudi mengalami kekerasan. Sejumlah kerabat bahkan melaporkan bahwa mereka sangat prustasi dengan masalah judi. Keluarganya menjadi hancur dan anak-anaknya menanggung penderitaan berkepanjangan. 

Menjadi jelaslah bagi kita bahwa keluarga yang berjudi terancam menjadi objek kekerasan terhadap anak pada umumnya di masyarakat. Bagaimanapun kekerasan, pertengkaran, dan pertikaian tidak dibenarkan dalam Islam. Kekerasan hanya akan menyuburkan benih-benih dendam yang berkepanjangan dan tak berujung. Bahkan terkadang kekerasan bisa berujung pembunuhan. Hal ini tentu membuat kita tidak nyaman. Seorang muslim mestinya menjadi pelopor terwujudnya kedamaian di keluarga, di lingkungan tempat belajar, dan masyarakat sekitar. Pada ayat di atas, minuman keras dan judi termasuk dua perkara yang sama-sama memiliki dampak membahayakan. Masing-masing dampaknya menimbulkan kekerasan. 

Jauhi minuman keras, judi dan kekerasan. Dekati Masjid dan makmurkan, agar hati tenang tentram hingga timbul sifat kelembutan.



Remaja Masjid IAIN Ambon Sukseskan 17 Agustus 1945 dengan Dialog Rohani Kebangsaan

 

Remaja Masjid IAIN Ambon gelar dialog mengenang jasa para pahlawan, harapannya Masjid Menjadi pusat lahirnya rohani kebangsaan bagi masyarakat. Sehingga tumbuh persatuan dan ukhuwah bagi masyarakat dan bangsa serta lahirnya orang-orang jujur dan adil dalam mengelola negara. Dialog ini dihadiri Pakar Hukum Dr. Nasarudin Umar, M.H. Imam Masjid IAIN Ambon Ustadz Syafril Majapahit, M.Pd.  Ketua Takmir Masjid IAIN Ambon Dr. Syarifuddin, M.Sos dan Perwakilan BKPRMI Maluku Ustadz Anin Lihi, M.Ag. 



Syarifuddin saat membuka dialog dan dikuatkan alasannya setelah diwawancarai menyatakan bahwa dialog rohani kebangsaan dilakukan sebagai bentuk penguatan rohani kebangsaan. Mengingat Bangsa Indonesia sedang redup cahaya, karena ulama dan negara dibenturkan. Sehingga membutuhkan semacam Rohani Kebangsaan yang dimulai dari Masjid. Masjid sebagai pusat edukasi, pusat pembelajaran, pusat pencerdasan dan pusat pencerahan rohani kebangsaan. Semakin tangguh rohani kebangsaan, maka semakin tangguh persatuan dan persaudaraan kita.

Ketika Rohani Kebangsaan tidak dibenahi sulit rasanya persatuan dan persaudaraan itu terpupuk rapi dan tidak bisa tumbuh subur akibat rohani kebangsaan kita. Semakin krisis rohani kebangsaan bisa melahirkan perpecahan, pertikaian sehingga nasionalisme dan patriotisme semakin menurun. Ketika pendidikan rohani kebangsaan tidak dibiasakan dan tidak ditradisikan dengan menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan Rohani Kebangsaan dari Indonesia. Ketika rohani kebangsaan tidak didik di Masjid, maka banyak orang memanfaatkan agama dibenturkan dengan negara, padahal ini tidak boleh dibenturkan, agama dan negara seperti jasmani dan rohani tidak bisa dipisahkan. Dengan demikian, penguatan rohani kebangsaan adalah satu perspektif untuk menjaga dan melindungi stabilitas sosial kita, melindungi stabilitas keamanan kita dari terpaan-terpaan krisis ideologi dan krisis kebangsaan. Tema penguatan rohani kebangsaan adalah jalan menuju rohani kebangsaan yang pari purna untuk memperkokoh Indonesia yang lebih baik. Indonesia sehat, Indonesia Cerdas, Indonesia dan Indonesia tangguh. Itu yang akan kita raih dengan penguatan rohani kebangsaan. Lebih lanjut Dr. Syarifuddin.

Anin Lihi, menambahkan, tentu kita tidak menafikan perjuangan basudara dari agama Hindu, Budha, Kristen dan lainnya. Sedikitnya mereka barangkali punya konstribusi juga melawan penjajah. Namun, kalau kita amati justru yang paljng menonjol umat Islam. Bahkan, penelitian tarekat menunjukan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya sekedar menang karena bambu runcing. Melainkan ada kekuatan spiritual ketuhanan pada jiwa-jiwa pejuang, terutama para ulama. Artinya, suatu yang tak masuk logika bambu runcing mampu mengalahkan senjata-senjata. Warga Indonesia saat itu sedang dijajah, sedang dizolimi. Karenanya doa yang mereka panjatkan khususnya para ulama tak ada penghalang sedikitpun, ditambah lagi peran metafisika (sifat gaib) saat itu begitu kental, girah perjuangan yang dilakukan sebagai bentuk jihad dan semangat timbul karena Allahu Akbar, bergetar hati mereka, iman mereka menambah. Ketika nama Allah disebut timbul rasa tak gentar dan tak ada rasa takut. Artinya, perjuangan benar-benar lahir dari rohani kebangsaan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. 

Dilihat dari konstribusi para pejuang, fakta menunjukan umat Islam begitu banyak yang menjadi pejuang. Alasan ini membuktikan bahwa umat Islam sudah mayoritas di Nusantara. Terlepas dari bali, maluku dan papua. Dan keislaman ini juga diakui oleh orang-orang kristiani Maluku, seperti buru dan daerah maluku lainnya. Ketika saya dirumah sakit Umum Kudamati, seorang yang sedang menjaga anaknya, saat kami bercerita, ia berkata nenek moyang kami dulu itu Islam, tapi karena terjadi kristenisasi. Setidaknya, mereka mengakui kalau mereka awalnya Islam, namun kembali ke Islam sudah sulit bagi mereka.  wallahu a'lam. Tutur, Anin Lihi

Anin Lihi menegaskan, Selain itu, kita bisa analisi dari pancasila dan UUD yang sering dibaca pada upacara 17 Agustus bahwa berkat Rahmat Allah. Kata Allah disini sangat memiliki konotasi dengan kata Tuhan yang Maha Esa. Yang sebelumnya rumusan pancasila mirip dengan piagam Madinah yang kita kenal dengan piagam jakarta. Artinya, jiwa kebangsaan murni diraih dari dorongan kalimat Tauhid. Jiwa rohani kebangsaan benar-benar terlihat dan kental pada wajah-wajah para pejuang. Atas dasar inipula mestinya umat Islam tidak boleh melakukan sikap main hakim sendiri membom dan membunuh secara serampangan terhadap umat lain. Sebab hukum ketata negaraan sudah berlaku. Teroris dan jenis kejahatan lain itu benar-benar bukan cerminan umat Islam dan nilai Tauhid. Begitu pula pejabat negara apapun agamanya harus menjiwai dan menanam sikap rohani kebangsaan pada dirinya. Sehingga terhindar dari korupsi, ketidak adilan, penghakiman dan lain-lain. Supaya Nilai Tauhid yang lahir dari Ketuhanan yang Maha Esa dari cerminan keimanan menimbulkan cinta dan kasih sayang. Sebagaimana negara yang dibangun oleh Rasulullah SAW, Negara Madinah, walaupun mereka hidup dalam beragam agama, yang negaranya dikelola berdasarkan hukum Islam, tetap dilindungi dan dijamin hak-hak agama lain.

Sikap ini khususnya untuk umat Islam bisa terwujud dengan baik kecuali umat Islam sudah benar-benar memakmurkan masjid, didalamnya mereka melakukan sholat, zikir dan pengkajian ilmu yang benar-benar dapat diwujudkan dari rasa ketuhanan dan nilai rohani kebangsaan. Maka remaja masjid memiliki peran fundamental, juga dukungan BKPRMI agar generasi yang baik bisa disiapkan untuk kemajuan bangsa Indonesia kedepannya.

Adapun dari sisi perpektif Qur'an, Wildan Majapahit melihat bahwa kemerdekaan Indonesia termasuk pemberian Allah SWT. Ini tidak bisa dibantah. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَلَمْ تَقْتُلُوْهُمْ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ قَتَلَهُمْ ۖ وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَ لٰـكِنَّ اللّٰهَ رَمٰى ۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْهُ بَلَآ ءً حَسَنًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْم

Artinya: "Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Al-Anfal/8: Ayat 17) * Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com

Ayat ini cukup jelas menerangkan kepada kita, bahkan menariknya penanggalan dan bulan kemerdekaan Indonesia persis dan sama dengan nomor surat pada ayat ini. Benar menakjubkan karunia Allah ini. 

Sementara pakar Hukum, Nasaruddin Umar menyatakan bahwa tema "Rohani Kebangsaan" kelihatannya bertentangan dengan sikap pejabat negara. Juga klaim Rohani Kebangsaan bukan satu-satunya cara membangun jiwa pancasila, sebab ada kedaulatan-kedaulatan hukum yang sudah mengaturnya, bahkan sampai pada kedaulatan adat istiadat masyarakat. Walau demikian, memang Rohani Kebangsaan tetap diterima. Karena sikap pejabat negara terkadang tidak mengindahkan nilai-nilai agama yang diajarkan di Masjid. Terkadang nilai kejujuran dan keadilan harus bergeser sedikit bahkan sampai hilang sama sekali ketika berbenturan dengan kepentingan-kepentingan pejabat-pejabat negara. 

Berdasarkan pikiran singkat  yang dijabarkan oleh Nasaruddin Umar ini, maka jelas pada posisi tertentu nilai pancasila terpinggirkan.