Monday, 25 January 2021

Tantangan Bukan Sebab Hambatan; Meraih Keuntungan Dalam Beramal

 Oleh: Anin Lihi


 Kita sering menyaksikan banyak perlombaan-perlombaan. Perlombaan di bidang olahraga, seperti; Gulat, permainan bola kaki, bola volly, bulu tangkis, tenis meja, persilatan dan lempar lembing. Perlombaan bidang tarian dan perlombaan bidang seni suara seperti; nyanyian-nyanyian, musabaqah tilawah, lasqi dan lain-lain.

Semua jenis perlombaan ini dibuat dalam bentuk olimpiade. Para pemenang yang berhasil meraih juara diberikan hadiah berupa uang, medali emas atau perunggu sebagai piala kemenangan. Sebelum peserta tampil mengikuti olimpiade. Terlebih dahulu para peserta diundi. Undian itu bertujuan untuk  menentukan peserta lomba yang tampil pertama, kedua dan seterusnya. Para peserta diundi siapa yang memenangkan perlombaan itu dan mendapatkan hadiahnya.

Para peserta lomba ini begitu bersemangat untuk meraih juara. Mereka berharap memenangkan juara itu dan tidak peduli dengan hadiah yang diberikan. Mereka rela meninggalkan shalat berjamaah demi meraih hadiah-hadiah dunia yang bersifat kesenangan sementara itu. Bahkan dengan susahpayah dan dengan pengorbanan yang sangat asalkan bisa mendapatkan undian-undiannya. Padahal justru banyak yang tertipu dengan kesenangan sesaat dan akhirnya kesenangan abadi terlupakan.



(Sumber Foto: https://www.google.com/search?q=MENGEJAR+KEUNTUNGAN+BESAR&safe=strict&sxsrf=ALeKk021GBu9LCOWd1Fb_1oTQI5

Di dunia hiburan kita sering mendengar liga dangdut. Sebelum tampil untuk menjadi penyanyi terbaik di TV pusat. Peserta lomba harus mengikuti seleksi di daerah-daerah mereka masing-masing. Siapa diantara mereka yang berhak mewakili provinsi untuk mengikuti liga dangdut tersebut. Artinya, mereka diundi terlebih dahulu. Tentu bukan hal yang mudah untuk menjadi penyanyi nomor satu mewakili Propinsi. Namun sesuatu yang dingini rintangan bukanlah sebab hambatan. Berbagai rintangan tidak menyulut semangat mereka.

Seorang teman aku pernah mengikuti undian liga ini. Namun, dia tidak mendapatkan juaranya. Tentu kegagalan itu menyulut api kekecewaan dalam dadanya. Karena tidak sanggup menahan kesal. Diapun mengutarakan kekecewaannya di Facebook. Dia merasa bahwa dialah yang pantas untuk tampil mewakili Propinsi. Tapi, pilihan itu tidak jatuh padanya. Dia sampai menangis tersedu-sedu sebab kesempatan itu tidak bisa diraihnya untuk tampil menjadi penyanyi dangdut di liga dangdut itu.

Aku sempat berpikir, masya Allah yah. Tampil menjadi penyanyi dangdut saja begitu bersemangat. Padahal aktifitas ini termasuk perbuatan yang diharamkan oleh Allah Swt., dan tentu pemainnya dimasukkan kedalam neraka. Semangat dalam hal kemaksiatan meskipun aktifitas kemaksiatan itu ada undiannya dan diraih dengan susahpayah.

Tidak hanya itu, kita juga sering menyaksikan para penonton liga dangdut yang rela tidak tidur hanya untuk menyaksikan orang-orang yang mereka idolakan. Bahkan di rumah-rumah ada yang menunggu waktu siaran TV liga itu sampai larut dan semangat mereka jauh lebih tinggi dari peserta yang mengikuti lomba. Ada yang rela mengirimkan uang, suara dan dukungan untuk menyemangati peserta yang mereka idolakan. Padahal yang mereka dapatkan hanya lelah dan ngantuk. Jika acara tersebut terlewatkan mereka merasa menyesal, karena kesempatan itu tidak mereka lihat, padahal mereka masih bisa menontonnya kembali di youtobe. Nauuzubillah.

Yang paling heboh lagi adalah perlombaan perebutan piala dunia. Yang menjadi persoalan adalah penonton. Ada yang rela mengorbankan waktu tidur mereka hanya untuk menyaksikan permainan bola. Alangkah besar manfaatnya, jika waktu tidur itu digunakan untuk beribadah kepada Allah Swt. Misalnya; Shalat Tahajjud, Baca Qur’an, Baca Kitab/Buku dan kebaikan lainnya.

Sementara pada perkara amal ibadah meskipun banyak sekali yang tertinggal, sedikitpun tidak mereka sesali. Mereka jahiliah dengan agama mereka biasa-biasa saja, mereka tidak tau membaca al-Qur’an mereka santai-santai saja, mereka tidak melaksanakan shalat mereka tetap tertawa terbahak-bahak, mereka tertinggal dan shalat berlalu dari waktu ke waktu mereka tak peduli. Sibuk dengan urusan dunia, merasa ilmu tidak penting dan menganggap tidak perlu pertolongan Allah Swt. di akhirat kelak dan tidak ingin rahmat Allah berpihak pada mereka.

Tapi, mereka yang paham tentang pentingnya ibadah dan keutamaannya mereka sangat bersemangat. Mereka tau bahwa hadiah ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah Swt., jauh lebih besar dari juara penyanyi dangdut itu. Mereka memang belum melihat atau menyaksikan hadiah-hadiah ibadah itu. Tapi, mereka yakin bahwa hadiahnya pasti diberikan jika sungguh-sungguh dan ikhlas dalam mengamalkannya. Adapun yang tidak paham mereka tidak mau bersemangat dalam melaksanakannya.

Bagi yang belajar mereka tau hadiah yang diberikan Allah Swt., pada mereka. Mereka tau bahwa seluruh ibadah dan amalan itu hadiahnya adalah lebih baik dari dunia dan seisinya. Jauh lebih baik dari piala emas, perunggu dan permata. Bahkan mereka akan mendapatkan kesenangan abadi yang sebelumnya tidak terbayang sedikitpun dibenak dan hati serta belum pernah dilihat mata. Mereka tau bahwa disetiap perkara ibadah ada ganjarannya, hatta perkara ibadah terkecil. Termasuk perkara keuntungan dalam panggilan dan shaf shalat ini. Karena mereka tau maka mereka rela meskipun diundi untuk mendapatkannya. Rasulullah Saw., bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, عَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسَ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ, ثُمَّ لَمْ يَجِدُ وْا اِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوْا. (متفق عليه)

“Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw., bersabda: ‘Andaikata orang-orang mengetahui pahala yang terkandung di dalam panggilan shalat dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan berundi untuk mendapatkannya, pasti mereka berundi.’” (Mutafaq ‘Alaih). HR. Bukhari, Fathul Baari, II/96 dan Muslim no. 437).

Maka dibalik setiap ibadah ada keuntungannya, tapi shalat adalah ibadah paling utama diantara ibadah lainnya. Perkara ini menjadi ukuran diterimanya amal-amal lainnya. Jika shalatnya diterima maka amal lainnya berikutan diterima. Itulah keutamaan shalat.

Hadits ini memberitahukan kita tentang besarnya pahala yang ada pada Adzan dan shaf pertama. Jika manusia mengetahui pahala, keuntungan dan hadiah dari kedua perkara ini, mereka pasti bersedia mengikuti undian, agar bisa meraih keduanya meskipun dengan susahpayah.

Maka, setelah mengetahui hadits ini, hilanglah kemalasan kita untuk melaksanakan shalat tepat waktu di Masjid dan perhatian kita terhadap pentingnya shaf. Timbul pula semangat untuk mendapatkan shaf pertama. Memperrebutkan shaf pertama selain dibelakang Imam. Karena dibelakang imam harus orang yang pandai memahami Qur’an atau orang yang berilmu. Untuk mendapatkan shaf pertama bagi yang paham akan saling berebut, bukan sebaliknya saling dorong mendorong dan saling mempersilakan satu samalain untuk menempati shaf pertama itu. Bahkan, sebelum iqamat dimulai shaf-shaf mestinya telah terisi penuh. Kita harus berlomba-lomba, bergegas memperoleh shaf pertama, dan ketahuilah saudariku bahwa inilah ciri orang-orang yang paham.

Sisilain dari filosofi dua amalan ini adalah adanya pengajaran supaya melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Dalam keutamaan shalat tepat waktu itu, jika shalat dilakukan berjamaah di Masjid, maka diganjari pahala 25 atau 27 derajat pahala. Tentu bukan hanya 25 atau 27 derajat pahala shalat berjamaah saja, pasti masih banyak keuntungan lain yang bisa kita dapatkan ketika kita tepat waktu dalam melaksanakan shalat dan apalagi sebelum adzan dikumandangkan kita sudah berada di Masjid menanti shalat, tentu akan mendapatkan lebih banyak lagi pahala, sebab kita dianggap selalu mengerjakan shalat selama kita duduk menanti shalat. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang satu ini, bahwa:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ قَلَ: لَايَزَالُ اَحَدُكُمْ فِيْ صَلَاةٍمَادَمَتِ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ, لَيَمْنَعُهُ اَنْ يَنْقَلِبَ اِلَي اَهْلِهِ اِلَّا الصَّلاة. (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya Rasulullah Saw., bersabda: Seseorang itu selalu dianggap mengerjakan shalat selama ia tertahan untuk menantikan shalat, tidak ada yang menahannya untuk kembali ke rumahnya melainkan shalat”. (HR. Bukhari, II/148. Dalam Fathul Barri dan Muslim no. 669).

Apabila lebih awal lagi kita menantikan shalat, maka selama itu pula kita dianggap melaksanakan shalat. Jika dua jam sebelum waktu shalat masuk kita sudah berangkat ke masjid untuk menanti shalat. Berarti selama dua jam kita dianggap melaksanakan shalat. Kalau kita hitung lamanya shalat wajib, paling hanya 10 atau 15 menit atau mungkin kurang dari itu. Jika Shalat Subuh dan Maghrib mungkin kurang dari 10 atau 15 menit. Kecuali ayat yang dibaca panjang baru bisa sampai 20 menit. Itupun belum tentu sampai selama itu. Jadi, 10 menit kalau kita kali 6 hasilnya 60 menit, yakni 1 jam. Berarti 1 Jam 6 kali kita shalat wajib. Jadi kalau 2 Jam sama dengan 12 kali, karena 6 dikali 2. Sekali sahalat wajib diganjari 27 pahala. Jadi 12 kali shalat wajib dikali sekali shalat berjamaah 27 pahala. Yaitu; 12X27= 324 pahala. Jadi, sekali menunggu satu waktu shalat wajib kita dapat 324 pahala. Itu 2 Jam saja kita menunggu. Belum lagi pahala Shalat Sunnah, membaca al-Qur’an, zikir dan aktifitas kebaikan lain yang kita lakukan.  Adapun 324 pahala kalau dikali Lima kali waktu shalat wajib dalam sehari kira-kira kita dapat berapa. Masya Allah 1,620 pahala. Itu sehari. Kalau kita kali sebulan, maka 1,620X30hari= 48.600  pahala. Jika dikali setahun tentu lebih banyak lagi. Masya Allah pendapatan kita sangat banyak. Tentu ini bukan nilai uang satu juta, sepuluh juta atau uang satu miliar yang bisa kita bayang-bayangkan. Ini nilai pahala yang tidak bisa kita samakan dengan uang, nilainya pasti lebih dari nilai uang yang ada dalam bayangan kita.  

Masya Allah, orang datang di Masjid saja sudah dapat pahala dan karunia Allah. Tentu itu bukan hitung-hitungan pedagang kaki lima atau pengusaha. Sebab nilai ibadah tidak dapat ditakar dengan hitungan akal manusia. Bahkan dengan alat canggih apapun juga.

Disebutkan pula dalam riwayat Bukhari ra., dari Anas ra., dari Rasulullah Saw.

وَعَنْ اَنَسٍ رَضِيَاللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَخَّرَ لَيْلَةً صَلَاةَ الْعِشَاءِاِلي شَطْرِ الَّيلِ, ثُمَّ اَقْبَلَ بِوَجْهِهِ بَعْدَمَا صَلَّي فَقَالَ: صَلَّي النَّاسٌ وَرَقْدُوْا وَلَمْ تَزَالُوْافِيْ صَلَاةٍمُنْذُاِنْتَظَرْتُمُوْهَا, (رواه بخاري).

Dari Anas ra., bahwasanya pada suatu malam Rasulullah Saw., mengakhirkan shalat isya’ sampai tengah malam kemudian beliau menatap kami setelah selesai shalat serta bersabda: ‘orang-orang telah shalat dan telah tidur, sedangkan kamu sekalian tetap dianggap mengerjakan shalat selama kamu menantikan shalat.” (HR. Bukhari II/51, Fathul Barri).

Terkait penjelasan banyaknya keuntungan dalam menantikan shalat insya Allah sesuai kemampuan aku dalam memahami penjelasan hadits ini telah aku uraikan dan aku lengkapi dengan contoh keterangan jumlah keuntungan menanti shalat jika kita mencoba untuk menghitung-hitungnya.

Hadits Anas ra., ini memperkuat hadits yang telah aku kutip sebelumnya, dimana para sahabat menunggu Nabi Saw., untuk melaksanakan shalat isya’ berjamaah. Para sahabat menunggu beberapa menit atau beberapa jam. Selama mereka menunggu, mereka telah mencetak banyak pahala. Seakan-akan tidak terhitung lagi berapa banyak pahala mereka dan sudah berapa rakaat mereka melaksanakan shalat. Hanya duduk menunggu untuk melaksanakan shalat berjamaah saja. Dari penjelasan hadits yang telah dikemukakan sebelumnya, menunjukkan bahwa menunggu waktu untuk melaksanakan shalat di Masjid termasuk aktifitas penting yang mengandung banyak nilai kebaikan.

Previous Post
Next Post

aninlihiofficial merupakan blog yang berkonsetrasi dalam bidang keilmuan, Budaya dan dakwah. dengan menyampaikan satu dua ayat. sebagaiman qaul yang sudah umum diketahui "balighu ani walau ayah" sampaikan walaupun satu ayat. mungkin satu ayat itu dimata orang kecil, tapi yakinlah hanya menyebar satu ayat itu saja sebenarnya hasil kebaikannya sudah berlipat ganda bagi orang yang menyebarkan. olehnya itu, penyebaran kebaikan yang sedikit ini, semoga menjadi amal yang belipat ganda disisi Allah swt

1 comment:

  1. Terima Kasih Informasi pentingnya. Sekiranya kita mengetahuinya, kita akan l3bih bersemangat dalam melaksanakan ibadah dan menempati shaf pertama dalam sholat.

    ReplyDelete