Saturday, 4 September 2021
Thursday, 2 September 2021
Keutamaan Mandi, Wudhu dan Shalat Jum'at serta Kerugian Bagi yang Tidak Memperhatikannya
Hari jum'at adalah pimpinan para hari disetiap ahadnya. Hari ini menjadi hari yang sakral dan istimewa bagi masyarakat-masyarakat pedesaan dan kampung. Kata orang-orang tua kampung "hari jum'at tidak boleh ke hutan, tidak boleh naik pohon, tidak boleh memotong, menebang, tidak ngebut dengan kendraan baik motor atau mobil, dan lain sebagainya.
Pokoknya hari jum'at dihargai, dihormati dan dimuliakan. Terutama disaat sebelum sholat jum'at dilaksanakan. Tidak menganggu hari jum'at dengan aktifitas kebun. Masyarakat kampung bahkan biasanya libur beraktifitas untuk menghormati kesakralan hari jum'at. Begitulah sedikitnya keistimewaan hari jum'at bagi masyarakat perkampungan.
Mengistimewakan hari jum'at lebih dahulu telah dibahas didalam Islam. Bagi Islam hari jum'at sungguh memiliki keutamaan, keistimewaan dan kebaikan. Sehingga pada hari itu dianjurkan untuk memperbanyak sholawat didalamnya. Sholawat ini menjadi aktifitas penting yang harus dilakukan pada hari jum'at. Bahkan menjadi rukun khutbah pada hari jum'at. Tanpa sholawat, khutbah jum'at, bahkan sholat jum'at menjadi gugur.
Perintah sholawat ini ayatnya jelas dan sering dibaca oleh khatib ketika menyampaikan pesan dakwah di atas mimbar. Disaat khatib naik mimbarpun juga diantar dengan ayat ini dan sholawat.
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56).
Ayat ini berisi ajakan kepada seluruh jamaah yang berada didalam masjid untuk membaca sholawat. Memberitahukan bahwa Allah dan para malaikatpun bersholawat kepada Nabi Muhammad saw.
Saking seringnya dibaca, ayat ini akhirnya menjadi populer, bahkan ada yang sudah menghafalnya. Bagaimana tidak, setiap khutbah pasti dibaca, bahkan sampai pada kalimat ya aiyyuha ramai-ramai jamaah yang ada didalam masjid mengucapkan sholawat kepada nabi. Jadi, wajar ayat ini dihafal oleh sebagian jamaah dan mungkin seluruhnya. Menariknya, sholawat kita sampai kepada nabi Muhammad Saw. Bayangkan, betapa senangnya hati ini jika sholawat kita itu Nabi Saw membalasnya.
Selain perintah untuk memperbanyak sholawat. Pada hari jum'at seseorang dianjurkan mandi, bahkan nabi menyatakan mandi sebelum jum'at termasuk wajib.
Dari Abu Sa'id al-Khudry ra. Bahwasannya Rasulullah Saw bersabda:" Mandi Jum'at wajib bagi setiap orang yang telah dewasa. (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka yang sudah dewasa harus mandi sebelum berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat jum'at. Namun, sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa mandi pada hari jum'at itu sunnah menurut pengkajian dari hadits dan al-Qur'an yang mereka pahami. Jika dikerjakan mendapat pahala, sebaliknnya tidak diamalkan tak berdosa. Tapi, setidaknya kita bisa memahami bahwa mandi pada hari jum'at termasuk perkara penting dan wajib sebagaimana wajibnya mandi ketika junub. Sebab, Nabi Saw memerintahkan untuk mandi sebelum sholat jum'at dilaksanakan.
Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Rasulullah Saw bersabda: "Apabila salah seorang diantara kalian mendatangi sholat jum'at, maka hendaklah ia mandi. (Hr. Bukhari dan Muslim).
Nabi Saw., pertegas bahwa mandi pada hari jum'at tidak hanya sekedar membasahi badan. Tetapi, mandi layaknya seperti orang yang telah junub. Nabi Saw bersabda.
"Barangsiapa yang mandi pada hari jum'at, seperti mandi janabah, kemudian ia segera pergi ke masjid dan disana belum ada orang, maka seakan-akan ia berkurban seekor onta. Barangsiapa yang datang saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban seekor lembu. Barangsiapa yang datang saat ketiga, maka seakan-akan ia berkurban seekor domba. Barangsiapa yang datang saat keempat, maka seakan-akan ia berkurban seekor ayam jantan (jago). Dan barangsiapa yang datang pada saat ke lima, maka seakan-akan berkurban sebutir telur. Apabila sang imam datang untuk berkhutbah, maka datanglah para malaikat untuk mendengarkan khutbah. (Hr. Bukhari dan Muslim).
Diperintahkan untuk mandi seperti mandi janabah sebelum ke Masjid. Menunjukkan pentingnya mandi sebelum shalat jum'at dilaksanakan. Ini menjadi salah satu anjuran selain berwudhu.
Dalam hadits itu meneranggkan tentang betapa besar keuntungan orang yang datang ke masjid di awal waktu. Seseorang yang memperhatikannya mendapatkan nilai pahala dan ganjaran ibarat unta yang diikorbankan. Sementara yang terlambat mendapat ganjaran sedikit sekali. Orang yang datang di awal waktu adalah pemenang juara pertama yang berhak menerima banyak hadiah atau berhak menerima piala yang besar dan mahal.
Jika keuntungan ini terlihat seperti uang satu miliyar, dua atau tiga. Maka orang akan berebut memakmurkan masjid dan selalu datang tepat waktu. Sepertinya pikiran dan keinginan terhadap hasil yang banyak sudah menjadi keinginan yang lumrah. Kalau pedagang dan pengusaha pasti paham. Yang lebih paham lagi mungkin ibu-ibu.
Adapun keistimewaan lain bagi orang yang mandi, tentu sangat disenangi orang. Bahkan sikap ini bagian dari rasa penghormatan. Betapa senangnya orang yang berada disamping kita. Melihat kita bersih, suci dan rapi. Apalagi pakaian kita diluluri pula dengan minyak wangi, maka akan semakin disenangi. Buka hanya manusia, malaikat dan Allahpun juga ikut senang. Nah orang yang menyucikan diri kata Nabi Saw, sebagaimana disebutkan dari Salman. Nabi bersabda:
"Seseorang yang mandi pada hari jum'at dan bersuci sesuci-sucinya, terus memakai minyak wangi atau memakai harum-haruman yang ada di rumahnya. Kemudian keluar untuk melaksanakan sholat jum'at dan tidak memisahkan antara dua orang yang sudah duduk. Lantas sholat sebagaimana yang telah ditetapkan. Kemudian ketika sang imam berkhutbah ia diam dan memperhatikan, niscaya diampunilah dosa-dosa yang dilakukan diantara hari itu dan hari jum'at berikutnya. (HR. Bukhari).
Hadits ini memberi petunjuk kepada kita bahwa mandi bukan satu-satunya perkara yang harus diperhatikan. Tetapi, menyucikan diri dengan wudhu juga harus diperintahkan. Bahkan keduanya merupakan perintah ibadah yang seiring sejalan. Mandi tersempurnakan kesuciannya dengan wudhu. Artinya, mandi tambah wudhu membuat seseorang semakin bersih dan suci. Namun, wudhu harus dilakukan dengan sempurna, baik dan tertib. Nabi bersabda.
Dari Abu Hurairah ra. berkata Rasulullah saw. "Barangsiapa yang berwudhu dengan sempurna kemudian mendatangi sholat jum'at lalu mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka diampunilah dosa yang dilakukan antara hari itu sampai pada hari jum'at berikutnya dan ditambah dengan tiga hari. Dan barangsiapa bermain-main kerikil maka sia-sialah jum'atnya. (Hr. Muslim).
Mandi dan wudhu dua perkara yang sangat memberi keuntungan bagi seseorang yang melakukannya. Nabi bersabda.
Dari Samurah ra. berkata, Rasulullah Saw bersabda: "barangsiapa yang wudhu pada hari jum'at maka beruntunglah ia pada hari itu, dan barangsiapa yang mandi maka mamdi itu lebih baik baginya. (Hr. At-Tirmidzi).
Betapa pentingnya menyucikan diri pada hari jum'at dengan mandi dan wudhu. Dosa-dosa terampuni karena berguguran kena mandi dan wudhu. Seluruh anggota badan bersih dari kotoran dan najis lainnya. Bahkan hati ikut tersucikan karena mandi dan kesempurnaan wudhu.
Berdasarkan penjelasan ini, maka, mandi dan wudhu serta konsentrasi mendengarkan khatib saat khutbah menjadi pintu gerbang kesuksesan sholat jum'at seseorang. Sebaliknya, gagal jum'at seseorang jika tidak membersihkan diri dengan baik dan tidak mendengarkan khatib dengan seksama. Betapa ruginya orang yang datang melaksanakan sholat jum'at, namun mereka bercerita dan bermain, mereka abaikan khutbah yang disampaikan oleh khatib. Taraf ini saja sudah bahaya. Apalagi sampai pada taraf meninggalkan sholat jum'at. Jika ini menjadi kebiasaan. Maka sangat fatal.
Sekilas saja tentang orang-orang yang memiliki kebiasaan meninggalkan sholat jum'at, bagi mereka akan dikunci oleh Allah hatinya sehingga kebenaran sulit masuk ke dalam relung jiwa dan hidayah Allahpun bisa menjauh. Nabi menyampaikan.
Dari Abu Hurairah dan Ibnu Umar ra. Bahwasannya keduanya mendengar Rasulullah saw bersabda di atas mimbarnya: "orang-orang yang biasa meninggalkan shalat jum'at harus segera menghentikan kebiasaannya itu atau kalau tidak maka Allah akan mengunci hati mereka kemudian mereka termasuk orang-orang yang lalai." (Hr. Muslim).
Bahaya jika terkuncinya naik pada tataran yang disebutkan oleh Allah sebagaimana kedua ayat ini.
صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُوْنَ
"Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali."(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 18).
Tentu tidak ada yang bisa mengembalikan orang yang telah dikunci hatinya oleh Allah. Melainkan Dia pula yang bisa membuka kuncinya. Maka perhatikan dan bentuklah kebiasaan sholat jum'at. Jangan sia-siakan mumpung masih kuat dan sehat. Waktu tak akan kembali, ia akan terus berlalu seiring berputarnya bumi.
Monday, 30 August 2021
Eksistensi Qalbu (Hati) didalam Diri Manusia: Untuk Mengetahui Kedudukan Hati
Eksistensi qalbu dalam diri manusia adalah sebagai wadah yang menampung, mengatur dan memerintah segala keinginan manusia. Ia juga sebagai tempat Iblis dan setan menggoda dan menyuruh manusia berbuat kejelekan. Ia juga menjadi tempat bagi Allah memberikan sesuatu untuk memlihara. Allah swt. berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّمَنْ فِيْۤ اَيْدِيْكُمْ مِّنَ الْاَ سْرٰۤى ۙ اِنْ يَّعْلَمِ اللّٰهُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ خَيْرًا يُّؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّاۤ اُخِذَ مِنْكُمْ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya:
“Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah Dia ambil dari padamu, dan Dia akan mengampuni kamu”. (Q.S. al-Anfal [8]: 70).
Maka hati yang selalu condong kepada Allah senantiasa berada dalam bimbingan dan pengawasan Allah swt. Karenanya, selalu bersih dan selalu melahirkan sikap terpuji, akhlak, kepribadian, ketenangan, ketentraman, kenyamanan dan kebahagiaan hidup di dunia serta akhirat.
Senada dengan penjelasan di atas, Abdurrahman Idrus Lasyarie menyebutkan bahwa keberadaan hati ialah sebagai pusat kebahagiaan seseorang, sebagai tombol pengontrol dan sebagai tempat kehidupan, sebagai tempat untuk bersyukur atau merasa syukur atas rezeki yang Allah swt. berikan dan menjadi tempat untuk merasakan kebahagiaan, santun atau kasar, mulia atau hina. Tetapi, ia juga bisa berperan sebagai tempat munculnya rakus (gelojoh; apa saja dimakan) dan segala bentuk keburukan lainnya.
Oleh karena itu, qalbu dapat menyelamatkan dan bisa pula mencelakakan. Hati yang kotor akan melahirkan perbuatan kotor, sebaliknya hati yang suci akan membimbing pada perbuatan yang baik. Nah, perlu diketahui bahwa semua yang dilakukan oleh hati akan dimintai pertanggung jawaban. Allah swt. berfirman:
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِا للَّغْوِ فِيْۤ اَيْمَا نِكُمْ وَلٰـكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوْبُكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ
Artinya:
“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud untuk bersumpah, tetapi Allah menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang disengaja untuk bersumpah oleh qalbu kamu. dan Allah Maha Penyantun ” (Q.S. al-Baqarah [2]: 225).
Sumpah yang disengaja berdasarkan niat hati, jika niat hati yang diungkapkan dari sumpah itu benar maka diri akan menjadi selamat. Sebaliknya, jika itu sumpah palsu, namun lahir dari niat hati maka akan mendapat siksalah diri.
Qalbu adalah wadah yang selalu menampung segala macam persoalan hidup, dia yang merasakan, dia yang khawatir, dia yang dikenai celaan dan dia yang mengenal. Sesungguhnya manusia siap untuk mengenal Allah swt. dengan hatinya tidak dengan salah satu anggota badannya, hatilah yang selamat dari Allah swt., dan sesungguhnya anggota badan hanyalah pengikut, pelayan dan alat yang dipekerjakan oleh hati dan pakainnya sebagaimana pemilik memakai hamba sahayannya dan sebagaimana pemimpin mempekerjakan rakyatnya.
Qalbu juga menjadi tempat yang dikuasai Allah swt. dimana Allah swt. dapat mendindingnya. Sebagaimana Allah swt. berfirman:
ۚ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَ نَّهٗۤ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ
Artinya:
“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya” (Q.S. al-Anfal [8]: 24).
Makna ayat ini menurut yang saya pahami adalqh bahwa Allah swt. menguasai qalbu manusia, agar mereka yang merasakan kegundahan dan kesulitan dapat memohon bantuan kepada-Nya untuk menghilangkan kerisauan dan kegundahan yang ada didalam qalbu yang dideritanya. Ayat di atas sepadan dengan firman Allah swt:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
Artinya:
“yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” (Q.S. ar-Ra’du [13]: 28).
Berdasarkan penjelasan ini, dapat dipahami bahwa qalbu adalah wadah yang mampu menampung ketenangan. Namun, ketenangan yang didapatkan itu bersumber dari kedekatannya kepada Allah swt.
Sebaliknya, jika manusia jauh dari mengingat Allah, maka hati menjadi wadah bagi setan untuk menguasainya. Sehingga, kecenderungan perilaku yang diperbuatnya senantiasa berujung pada kerugian semata.
Wednesday, 25 August 2021
Contoh-Contoh Waqof: Supaya Mudah Mempraktekkan dan Mengetahui Cara Membacanya
Pada link ini https://www.aninlihi.com/2021/08/tanda-tanda-waqof-dan-pengertiannya.html?m=1. telah dibahas pengertian dan makna-makna waqof. Nah, pada uraian artikel ini khusus membahas contoh-contoh waqof yang disesuaikan dengan jumlah waqof yang telah dijelaskan. Adapun uraian contoh-contoh waqof adalah sebagai berikut:
1. Waqof Laazim
وَاِ لٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا ۘ قَا لَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوْا اللّٰهَ مَا لَـكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗ قَدْ جَآءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ ۗ هٰذِهٖ نَا قَةُ اللّٰهِ لَـكُمْ اٰيَةً فَذَرُوْهَا تَأْكُلْ فِيْۤ اَرْضِ اللّٰهِ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْٓءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ
"Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di Bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 73).
لَـقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَا لُوْۤا اِنَّ اللّٰهَ ثَا لِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّاۤ اِلٰـهٌ وَّا حِدٌ ۗ وَاِ نْ لَّمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ
"Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 73).
وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۘ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ كُلُّ شَيْءٍ هَا لِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَـهُ الْحُكْمُ وَاِ لَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
"Dan jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan." (QS. Al-Qasas 28: Ayat 88).
2. Waqof Mutlaq
Khusus untuk Waqof Mutlaq, tanda to.
3. Waqof Jaaiz
وَا لَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَاۤ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِا لْاٰ خِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ
"dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 4).
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِى اسْتَوْقَدَ نَا رًا ۚ فَلَمَّاۤ اَضَآءَتْ مَا حَوْلَهٗ ذَهَبَ اللّٰهُ بِنُوْرِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِيْ ظُلُمٰتٍ لَّا يُبْصِرُوْنَ
"Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 17).
وَا لْوَزْنُ يَوْمَئِذِ ٱِلْحَـقُّ ۚ ثَقُلَتْ مَوَا زِيْنُهٗ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
"Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka, barang siapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung," (QS. Al-A'raf 7: Ayat 8).
4. Waqof Mujawwazun
5. Waqof Murokhosun
6. Qiila 'Alaihi Waqfun
7. Tholabul Waqfi
8. 'Adamulwaqfi
فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ ۙ فَزَا دَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًا ۚ وَلَهُمْ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ ۙ بِۢمَا كَا نُوْا يَكْذِبُوْنَ
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta."(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 10).
حَتّٰۤى اِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمَا قَوْمًا ۙ لَّا يَكَا دُوْنَ يَفْقَهُوْنَ قَوْلًا
"Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung, didapatinya di belakang (kedua gunung itu) suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan."(QS. Al-Kahf 18: Ayat 93).
9. Washlul Uulaa
وَ تَحْسَبُهُمْ اَيْقَا ظًا وَّهُمْ رُقُوْدٌ ۖ وَنُـقَلِّبُهُمْ ذَا تَ الْيَمِيْنِ وَ ذَا تَ الشِّمَا لِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَا سِطٌ ذِرَا عَيْهِ بِا لْوَصِيْدِ ۗ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَا رًا وَّلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا
"Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidur; dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka, tentu kamu akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka." (QS. Al-Kahf 18: Ayat 18)
10. Mu'aanatun
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ
"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa," (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 2).
طَعَا مُ الْاَ ثِيْمِ
كَا لْمُهْلِ ۛ يَغْلِيْ فِى الْبُطُوْنِ
"makanan bagi orang yang banyak dosa." (QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 44). "Seperti cairan tembaga yang mendidih di dalam perut,"(QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 45).
11. Waqful Uula
وَكَذٰلِكَ بَعَثْنٰهُمْ لِيَتَسَآءَلُوْا بَيْنَهُمْ ۗ قَا لَ قَآئِلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۗ قَا لُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۗ قَا لُوْا رَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ ۗ فَا بْعَثُوْۤا اَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هٰذِهٖۤ اِلَى الْمَدِيْنَةِ فَلْيَنْظُرْ اَيُّهَاۤ اَزْكٰى طَعَا مًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِّنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ اَحَدًا
"Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, "Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?" Mereka menjawab, "Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari." Berkata (yang lain lagi), "Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali menceritakan halmu kepada siapa pun."(QS. Al-Kahf 18: Ayat 19).
قَا لُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَّنَا مَا هِيَ ۗ قَا لَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا فَا رِضٌ وَّلَا بِكْرٌ ۗ عَوَا نٌۢ بَيْنَ ذٰلِكَ ۗ فَا فْعَلُوْا مَا تُؤْمَرُوْنَ
"Mereka berkata, "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu." Dia (Musa) menjawab, "Dia (Allah) berfirman bahwa sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 68).
12. 'Ain
13. Mutoobaqatul Waqfi
14. Saktah
قَا لُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا ۜ هٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ
"Mereka berkata, "Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?" Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah rasul-rasul-Nya."(QS. Ya-Sin 36: Ayat 52).
وَقِيْلَ مَنْ ۜ رَا قٍ
"dan dikatakan (kepadanya), "Siapa yang dapat menyembuhkan?"(QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 27)
كَلَّا بَلْ ۜ رَا نَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ
"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka." (QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 14)
Monday, 23 August 2021
Tanda-Tanda Waqof dan Pengertiannya: Agar Tidak Sembarang Berhenti Membaca Saat Membaca ayat al-Qur'an
Pembahasan waqof dibawah ini lebih kental mengurai tentang fungsinya. Paling penting juga bukan mengetahui arti harfiahnya. Tetapi arti pemakainnya. Ini seharusnya yang perlu dipahami. Sehingga ketika menemukan tanda berhenti jika harus berhenti atau lanjut jika menemukan waqof yang bisa lanjut. Perhatikan uraian waqof di bawah ini:
1. Waqof Laazim
Jika seseorang membaca al-Qur'an lantas menemukan waqof jenis ini, dia harus berhenti. Dilazimkan untuk berhenti. Pada waqof ini seseorang berkesempatan untuk mengambil nafas sebelum melanjutkan ayat sebelumnya.
Harus Berhenti
وَقْفُ لَّازِمِ
Tanda م
Peringatan: bukan termasuk mim pada bacaan iklab.
2. Waqof Mutlaq
Maksudnya ketika kita bertemu dengan waqaf ini lebih utama atau lebih baik berhenti walaupun nafas masih kuat.
Lebih baik berhenti meskipun nafas masih kuat
وَقْفُ الْمُطْلَقُ
Tanda ط
3. Waqof Jaaiz
Maksudnya bisa lanjut, tapi lebih baik berhenti.
Lebih baik berhenti
جَائِزٌ
Tanda ج
4. Waqof Mujauwwazun
Ketika bertemu dengan waqof ini kita boleh berhenti. Tetapi, sebaiknya dilanjutkan jika nafas masih kuat.
Lebih baik terus jika nafas masih kuat
وَقْفْفُ مُجَوَّزٌ
Tanda ز
5. Waqof Murokkhosun
Jika bertemu dengan tanda ini, maka alangkah bagusnya dilanjutkan.
Lebih baik dilanjutkan jika nafas masih kuat
وَقْفُ مُرَ خَّسٌ
Tanda ص
6. Qiila ‘Alaihi Waqfun
Jika bertemu dengan waqof ini seseorang boleh berhenti ketika membaca qur’an, namun diteruskan justru lebih bagus.
Boleh berhenti tapi lebih baik diteruskan
قِيْلَ عَلَيْهِ وَقْفٌ
Tanda ق
7. Tholabul Waqfi
Apabila seseorang membaca al-Qur’an lalu bertemu dengan tanda ini, maka dianjurkan untuk berhenti.
Lebih baik berhenti
طَلَبُ الْوَقْفِ
Tanda قف
8. ‘Adamul Waqfi
Jika bertemu dengan tanda ini ketika membaca al-Qur’an maka harus dilanjutkan bacaannya. Kalau nafas tidak sampai boleh diulang dari tengah sesuai tempat pengulangannya.
Tidak boleh berhenti
عَدَمُ الْوَقْفِ
Tanda لا
9. Washlul Uulaa
Apabila seseorang membaca qur’an lalu bertemu dengan tanda ini maka dianjurkan untuk melanjutkan bacaannya.
Lebih baik diteruskan
اَلْوَ صْلُ الْأُوْلَى
Tanda صلى
10. Mu’aanatun
Jika seseorang membaca qur’an lantas menemukan titik tiga maka harus berhenti disalah satu tanda yang tiga tersebut. Kemudian lajutkan bacaan.
Berhenti disalah satu tanda titik tiga
مُعَا نَةٌ
11. Waqful Uula
Jika membaca al-Qur’an kemudian menemukan tanda ini, maka alangkah bagusnya berhenti.
Lebih baik berhenti
اَلْوَقْفُ الْأُوْلَى
قلى
12. ‘Ain
Tanda ini merupakan tanda ruku’, juga diartikan tanda akhir surat atau ayat tertentu.
Tempat ruku’ atau berhenti
Tanda ع
13. Mutoobaqatul Waqfi
Mengikuti waqof sebelumnya
ك لك
مُطَا بَقَةُ الْوَ قْفِ
ك
14. Saktah
Seseorang dianjurkan untuk berhenti sejenak jika membaca lantas menemukan tulisan saktah pada ayat. Berhenti tanpa nafas sejenak.
Berhenti sejenak tanpa nafas
Tanda سكتة
Demikian beberapa tanda waqof, semoga ada kemudahan mengetahui tempat-tempat berhenti ketika membaca al-Qur'an. Semog bermanfaat. Adapun contoh-contoh waqof akan diuraikan pada pembahasan berikutnya. Insya Allah.
Oleh: Anin Lihi
Friday, 20 August 2021
Sifat-Sifat Yang Merusak Qalbu: Agar Hati Bresih Hindari Penyakit Ini
Seseorang tidak akan pernah melakukan satu kebaikan jika qalbunya tidak terdapat kebaikan sedikitpun, yang mana kebaikan itu yang mendorongnya untuk berbuat baik. Sesungguhnya kebaikan itu akan melahirkan kebaikan yang lain.
‘Urwah bin Zubair ra. Mengabarkan bahwa, jika kamu melihat kebaikan maka ketahuilah bahwa kebaikan itu mempunyai saudara yang lain, dan jika kamu melihatnya melakukan keburukan maka ketahuilah bahwa keburukan itu masih mempunyai saudara yang lain, hal itu dikarenakan keburukan yang satu akan menunjukan kepada keburukan yang lain dan kebaikan yang satu akan menunjukan kebaikan yang lain.
Ada beberapa hal yang cenderung merusak kepribadian seseorang:
Buruk sangka
Buruk sangka merupakan energi tertentu yang tumbuh di dalam hati, sifat ini sangat tercela dan merupakan dosa. buruk sangka harus dihilangkan dari dalam hati dengan sekuat tenaga. Karena prasangka yang tidak baik membuat orang senantiasa curiga terhadap orang lain, bahkan juga terhadap Allah swt. Buruk sangka merupakan jalan Setan agar mudah menggoda dan menggelincirkan manusia, bukankah Iblis telah berjanji untuk menggoda dan menjerumuskan pada jurang kebinasaan. Hal ini sebagaimana Allah swt. berfirman:
فَاَ زَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَ خْرَجَهُمَا مِمَّا كَا نَا فِيْهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚ وَلَـكُمْ فِى الْاَ رْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَا عٌ اِلٰى حِيْنٍ
Artinya: “lalu keduannya digelincirkan oleh Setan dari surga itu dan dikeluarkan mereka dari tempat yang sebelum keduanya berada di dalamnya”. (Q.S. al-Baqarah [2]: 36).
Adam dan Hawa dengan tipu daya Setan memakan buah pohon yang dilarang Allah swt., yang mengakibatkan keduanya keluar dari Surga, dan Allah swt. menyuruh mereka turun ke dunia.
Hasad ( Dengki )
Dengki ialah perasaan marah (benci, tidak suka) karena cemburu. Menurut KH. Abdullah Zakiy al-Kaaf; hasad dan dengki memiliki cabang yang dinamakan syuh ( kikir yang bersangatan) syuh ini lebih buruk dari sifat bakhil (Pelit). Orang yang bersifat bakhil terlalu cinta kepada harta yang dimilikinnya sehingga tidak rela hartannya jatuh ketangan orang lain. Orang yang memiliki sifat merasa tidak tenang ketika melihat orang lain diberikan karunia oleh Allah swt. Baik berupa ilmu, harta, maupun pangkat dan sebagainya. Pemikirannya ingin agar apa yang dimiliki orang lain itu hilang. hal ini sebagaimana diungkapkan Ulama Salafus Saleh bahwa, sesungguhnya permulaan dari kekeliruan ialah kedengkian. Iblis dengki kepada Nabiyullah Adam a.s. karena kedudukan yang diperolehnya, sehingga menyebabkan Iblis tidak mau menghormatinya ketika diperintah oleh Allah swt.
Orang yang mempunyai hasad (dengki) tidak akan memperoleh sesuatupun dari manusia terkecuali celaan dan hinaan, sedangkan Malaikat melaknatinya dan Allah swt. kelak pada hari kiamat tidak akan memberikan sesuatu kecuali malu dan siksa.
Sifat ini merusak dan menghilangkan amal seseorang kelak di akhirat. Ibarat kayu yang dilahap api, kemudian menjadi abu yang diterbangkan angin. Hilang dan hangus seluruh amal kebaikan. Tak bermanfaat sama sekali bagi keselamatan diri dihadapan Allah swt.
Riya’ ( Pamer )
Riya’ (Merasa bangga karena telah berbuat baik). Ibnul Qayyim menjelaskan riya’ ialah memamerkan sesuatu yang melahirkan pujian atau cinta pujian dan popularitas hal ini sangat merusak qalbu.
‘Ujub ( bangga diri atau merasa lebih utama dari pada orang lain )
‘Ujub serta sombong merupakan penyakit hati yaitu orang yang menganggap dirinya lebih atau paling tinggi, bahkan mulia, paling agung bahkan menganggap orang lain hina.
Ibnu al-Mubarak mendefinisikan ‘ujub dengan mengatakan “ujub adalah engkau merasa pada dirimu terdapat sesuatu kelebihan yang tidak dipunyai orang lain.”
Kemarahan, Hawa nafsu lingkungan, cinta dunia, dan Setan.
Kemarahan dan hawa nafsu, lingkungan, kepentingan duniawi dan Setan jika menguasai hati, maka ini akan berdampak pada rusaknya kepribadian manusia, jika hal ini dapat di tentang dan di cegah niscaya kekuatan–kekuatan jiwa menjadi lurus dan akhlaknnya menjadi baik atau kepribadiaanya menjadi unggul.
Jamaluddin Kafie menjelaskan ada empat tingkatan nafsu dalam tubuh manusia:
1. Nafsu mementingkan diri dan jahat ( nafsu amarah ).
2. Nafsu menipu diri ( nafsu musawwilah ).
3. Nafsu menyesali diri ( nafsu lawwamah )
4. Nafsu kebintangan ( nafsu sab’iyah ).
Barang siapa yang mengikuti jalan ini maka ia seperti orang yang difirmankan Allah swt:
اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ وَاَ ضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةً ۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
Artinya:
“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran” (Al-jaasiyat [45]: 23).
Maksudnya Allah swt. membiarkan orang itu sesat, karena Allah swt. telah mengetahui bahwa dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.
Dan jika seseorang mampu menahan hawa nafsunya maka ia adalah termasuk orang yang takut akan Allah swt. Sebagaimana Allah swt. berfirman:
وَاَ مَّا مَنْ خَا فَ مَقَا مَ رَبِّهٖ وَ نَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى
يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ السَّا عَةِ اَيَّا نَ مُرْسٰٮهَا
Artinya:“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”. (An-naazi’at [79]: 40-41).
Rusaknya kepribadian manusia itu dikarenakan hawa nafsu dan kemarahan menguasai hati, olehnya itu kita memohon kepada Allah swt. untuk memberikan kebagusan petunjuk dalam melatih diri sehingga terhindar dari rusaknya kepribadian kita karena nafsu syahwat amarah yang tertanam di dalam hati.
Beberapa perkara di atas menurut Abdul Hamid al-Bilali dapat dibendung jika seseorang melakukan ketaatan untuk menundukan diri dari hawa nafsu dan melakukan peribadatan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: seorang muslim membutuhkan rasa takut kepada Allah swt., bila hawa nafsu muncul dalam dirinya maka ia harus mengekang karena itu bagian dari ibadah kepada Allah swt. Ibnu Qayyim al-Jauziah menjelaskan bahwa, untuk seseorang agar selamat dari prasangka–prasangka dan keyakinan yang tidak baik maka seseorang harus menempuh jalan–jalan menuju Ma’rifatullah sehingga dia dapat menyembahnya menuju kecemerlangan. Ada dua jalur yang harus ditempuh: pertama; bersikap sesuai dengan nash – nash wahyu tentang sifat–sifat Allah swt. dan Asma-Nya. Kedua; Jalan untuk mengenal Tuhan dengan segala sifat-Nya adalah dengan membuktikan ciptaanNya.
Thursday, 19 August 2021
Sifat-Sifat Huruf yang Berlawanan dan yang Tidak Berlawanan: Agar Semakin Lembut Membaca al-Qur'an
Jumlah sifat yang telah diuraikan itu ada 19 dan terbagi dua sifat. Sifat yang berlawanan dan sifat yang tidak. Sifat yang berlawanan ada 10 dan sifat yang tidak berlawanan ada 9.
19 sifat huruf ini, digolongkan menjadi dua bagian. Yaitu:
- Sifat Qawiy (sifat-sifat huruf yang kuat. Dibaca tebal, berat, nafas tertahan karena harus mengangkat lidah.
- Sifat Dha’if (Sifat-sifat huruf yang lemah. Huruf-hurufnya dibaca ringan, udara bebas keluar, dan dibaca tipis. Karena tidak harus mengangkat lidah.
1. Sifat Huruf yang berlawanan
جَهْرٌ (Terang)
هَمْسٌ (Samar)
شِدَّهْ (Kuat)
رَخَاوَةٌ (Lemah)
إِسْتِعْلَاءٌ (Terangkat)
إِسْتِفَالُ (Ke bawah)
إِطْبَاقُ (Melekat)
إِنْفِتَاحُ (Terbuka)
إِصْمَاتُ (Menahan)
إِذْلَاقُ (Ujung)
2. Sifat -sifat huruf yang tidak berlawanan
قَلْقَلَةُ (pantul)
ق ط ب ج د
لَيْنٌ (lembut)
و وْ، ي يْ
صَفِيْرٌ (desis)
ص ز س
تَوَسُّطُ (sedang)
لَنْ غمر
إِنْحِرَافُ (goncang)
ل ر
تَكْرِيْرِيْ (getar)
ر
إِسْتِطَالَةُ (memanjang)
ض
تَفَشِّيْ (Tersiar)
ش
Bukan sewaktu dibaca idzhar
غَنَّةُ (dengung)
مْ نْ ً ٍ ٌ ( tanwin)
Perhatikan Gambar Tabel Sifat Huruf Yang Berlawanan dan Yang Tidak Berlawanan di bawah ini:








