Thursday, 16 September 2021

Jiwa dan Ruh Manusia Menurut al-Ghazali

www.tongkonganislami.net
 

Manusia merupakan makhluk Allah yang terdiri dari jasad dan jiwa. Menurut al-Ghazali, jasad dianggap sebagai unsur yang gelap, tebal, termasuk dalam kategori wujud, bersifat rusak, tersusun dan berdebu. Unsur ini tidak bisa disempurnakan kecuali ada unsur lain yang melengkapinya. Al-Ghazali menyebut unsur kedua ini sebagai jiwa yang bersifat jauhar (subtansi), yang menerangi, menemukan, mengerjakan, menggerakkan dan menyempurnakan berbagai alat dan jasa. 

Al-Ghazali menyebut jiwa sebagai jauhar yang bersifat sempurna dan tunggal, keberadaannya hanya untuk berzikir, menghafal, berpikir, dan membedakan, juga menerima semua ilmu dan tidak jemu menangkap fenomena dan ilustrasi non material. Jauhar inilah kata al-Ghazali sebagai pemimpin ruh-ruh dan raja yang kuat. Semuanya melayani jauhar dan melaksanakan perintahnya.






 

Jika demikian penjelasan al-Ghazali tentang jauhar itu, maka dapat saya katakan ia semacam unsur yang memerintah, ia menjadi pemimpin dari keinginan-keinginan manusia. Senada dengan penjelasan ini, al-Ghazali mengutip pendapat para hukama menyebut jauhar itu dengan an-nafs an-nathiqah, al-Qur'an menyebutnya an-nafs al-muthmainnah (jiw yang tenang), ruhul amri dan para sufi menamakannya qalbu. 

Artinya, perbedaan jauhar ini hanya pada nama, sedangkan maknanya sama. Adapun qalbu dan ruh berbeda hanya pada pandangan manusia. Jadi, al-muthmainnah, merupakan nama-nama an-nafs an-natiqah, ruh atau qalbu. Inilah yang disebut sebagai jauhar yang hidup, kreatif dan menemukan sesuatu.

Maka jelas bahwa para ulama menamakan jauhar itu dengan ibarat yang berbeda-beda. Ulama ahli kalam mengatakan bahwa jauhar adalah jism yang halus. Mereka tidak melihat perbedaan ruh dan jasat, kecuali dengan sebutan antara yang halus dan ketebalan atau al-lathafah wal kasyafah. 

Benarlah kiranya apa yang terdapat didalam ilmu-ilmu hikmah yang disertai dalil-dalil pasti dan bukti nyata bahwa an-nas an-natiqah bukan berupa fisik dan tidak pula benda. Sebab, ruh merupakan urusan Allah. Allah berfirman:

وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah, "Roh itu termasuk urusan Tuhanku. "(QS. Al-Isra' 17: Ayat 85).

Didukung oleh ayat ini: 

يٰۤاَ يَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ 

"Wahai jiwa yang tenang!" (QS. Al-Fajr 89: Ayat 27).

ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَا ضِيَةً مَّرْضِيَّةً 

"Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya."(QS. Al-Fajr 89: Ayat 28)

Penyebutan ruh dan jiwa pada kedua ayat ini, jika dikaji secara mendalam memiliki makna yang sama. Namun, spesifiknya ruh atau jiwa merupakan urusan Allah. Ruh dan jiwa bukan termasuk  jism dan bukan pula benda, bahkan ia disebut jauhar yang akan senantiasa ada untuk selamanya tanpa mengalami kerusakan.

Monday, 13 September 2021

Penyakit Hati Yang Bernilai Pahala dan Tetap Dipertahankan.




Barangkali membaca judul artikel ini, teman-teman sepertinya kaget dan mungkin hati menjadi geli. Penyakit hati kok boleh dipertahankan dan ditingkatkan. Seakan-akan judul artikel ini kontroversi dan tidak sesuai. Tapi, sabar dulu, insya Allah akan saya uraikan maksudnya. Mohon maaf atas kekhilafa jika judul artikel ini sedikit mencabik hati dan mengagetkannya. 

Terdapat beberapa penyakit hati yang tidak boleh ada dalam diri seseorang. Sombong, 'Ujub, Takabbur, Bangga diri, Riya', Pamer, dan Irihati (Hasad atau dengki). Inilah beberapa penyakit hati yang tidak boleh ada dalam diri seorang muslim. Keberadaan beberapa penyakit hati ini, sangat membahayakan seseorang. Baca Juga https://www.aninlihi.com/2021/08/sifat-sifat-yang-merusak-qalbu-agar.html?m=1.

Bukankah sombong telah menjerumuskan Iblis kedalam kesengsaraan abadi, bukankah Qarun ditenggelamkan bangga diri, riya dan pamer. Begitu pula, bukankah orang yang dengki, hasad atau irihati amalnya akan hangus dihadapan Allah karena iri hati itu.  Baca, https://www.aninlihi.com/2021/08/eksistensi-qalbu-hati-didalam-diri.html?m=1.

Alhasadu ta'kulul hasanaatu, kamaa ta'kululunnaarul hatoba. (Irihati dapat membakar amal, seperti api yang melahap kayu bakar). 

Irihati ternyata begitu membahayakan, seseorang sudah bersusah payah dalam mengamalkan ibadah seumur hidupnya. Ia sholat, ia puasa, ia bayar zakat, ia haji. Namun, semua amal itu menjadi hangus terbakar hanya karena sifat irihatinya yang kecil itu.

Kalau demikian bahayanya irihati itu, kenapa judul artikel ini, seakan-akan memberi dukungan pada irihati hati yang boleh dilakukan?.







Jadi, begini, irihati itu terbagi dalam dua makna dan fungsi. 

Pertama: irihati yang tidak diperbolehkan. 

Inilah irihati yang sudah saya uraikan ancamannya. Jenis irihati seperti ini bermakna penolakan dan penghapusan total terhadap sesuatu kelebihan yang dimilki orang lain. Artinya, seseorang tidak suka terhadap keunggulan atau kemampuan yang lebih baik pada diri orang yang didengki dan berharap agar kelebihan orang itu hilang darinya. Maksudnya nikmat yang diberikan Allah, orang yang dengki menginginkan karunia itu hilang.

Nah, sifat macam ini berbahaya, sebab terkadang bisa berujung pada pembunuhan dan keterjerumusan dalam kesyirikan. Betapa banyak orang yang dengki kemudian melakukan sihir, santet dan jenis ritual setan lainnya hanya untuk menghambat dan menyakiti orang yang didengki. Maka, jika ada sifat seperti ini tolong dibuang jauh-jauh. Jangan dipelihara, temukan solusi untuk menghilangkannya. Agar engkau selamat. 









Kedua: Irihati yang diperbolehkan. Jenis hasad macam ini, kadang disebut ghitto'. Artinya, seseorang irihati pada karunia Allah yang diberikan kepada orang lain, namun irihati tersebut semacam memberi semangat dan motivasi, bukan niat hati ada harapan agar kelebihan orang lain hilang. Jenis iri seperti ini kata Nabi Saw, diperbolehkan pada dua hal. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Ibnu Umar.

Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi Saw., beliau bersabda: Tidak ada irihati yang diperbolehkan, kecuali pada dua hal, yaitu: Seseorang yang diberi kemampuan oleh Allah untuk membaca dan memahami Al-Qur'an kemudian ia membaca dan mengamalkannya baik pada waktu malam maupun siang, dan seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah, kemudian ia menafkahkannya dalam kebaikan, baik pada waktu malam maupun siang" (Hr. Bukhari dan Muslim).

Jadi, irihati yang diperbolehkan semata-mata jenisnya adalah dorongan untuk memotivasi diri dalam meningkatkan kemampuan membaca al-Qur'an dan kreatifitas dalam mengamalkannya. Juga motivasi untuk mengeluarkan harta dijalan Allah tanpa mengenal waktu. 


Seseorang boleh irihati pada orang yang memiliki kemampuan menguasai dan mengamalkan al-Qur'an serta kemampuan seseorang dalam berinfaq tanpa kenal waktu. Namun, irihati yang dimaksud bukan berharap agar kelebihan membaca dan mengamalkan al-Qur'an serta semangat infaknya dijalan Allah menurun bahkan hilang. Jika, ada sifat seperti ini pada diri seseorang, maka berusahalah untuk dihilangkan. 

Dekati masjid, rutinlah membaca al-Qur'an, tingkatkan sholat sunnah, pertahankan sholat wajib, bangun hubungan kekeluargaan dan persaudaraan serta doa-doa.



Saturday, 11 September 2021

Antara Iman dan Kema'muran Masjid: Wujud Memanfaatkan Waktu Kepada Allah



"Iman", kata ini memang pendek diucap lidah. Tapi, besar manfaatnya bagi manusia. Ketika iman tumbuh didalam relung jiwa dan hati. Maka jiwa menjadi hidup dan hati menjadi tenang. Iman senantiasa mendorong pada kedekatan kepada Allah. Mendorong pada cinta. Bahkan cinta bisa terwujud pada tempat yang tepat jika iman menyertainya. Sehingga iman adalah perisai yang membuat manusia hidup dalam kedamaian dan kenikmatan. Dengan iman Agama menjadi ringan terlaksana dan tanpa beban.

Iman membawa seseorang pada kehati-hatian. Hati-hati dalam berpikir, hati-hati dalam menaruh perasaan, hati-hati dalam melihat, hati-hati dalam berbicara, hati-hati dalam melangkah, hati-hati dalam mengambil, hati-hati dalam berbuat, dan hati-hati dalam segala hal.







Jika seseorang telah memiliki iman dengan sempurna, maka  tidak ada lagi kata bohong, cacian dan makian. Yang ada hanyalah ucapan yang menyenangkan, tutur kata yang baik, dan perkataan yang berfaedah. 

Iman berfungsi untuk membentuk manusia yang berkarakter, berakhlak, dan berkepribadian unggul. Pasalnya, tidak ada lagi kata untuk menyianyiakan waktu bagi orang-orang yang beriman. Iman selalu mendorong seseorang memanfaatkan setiap waktu pada aktifitas yang menguntungkan. Senantiasa Belajar dan beramal soleh. 
 
Allah Swt berfirman:
وَا لْعَصْرِ
اِنَّ الْاِ نْسَا نَ لَفِيْ خُسْرٍ
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَا صَوْا بِا لْحَقِّ ۙ وَتَوَا صَوْا بِا لصَّبْرِ

Demi masa (waktu), seungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. QS. al-Ashr/103:1-3.

Itulah iman, ia menjadi pembuka bagi seseorang dalam melakukan amal, menggerakan seseorang untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.








Iman mampu mendorongan seseorang untuk memanfaatkan dan memaksimalkan ibadah. Sholat jadi tepat waktu dan kemakmuran masjidpun juga terjaga. Maka orang-orang yang memakmurkan masjid adalah orang-orang yang hatinya ada iman. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَاَ قَا مَ الصَّلٰوةَ وَاٰ تَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ فَعَسٰۤى اُولٰٓئِكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ


"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. At-Taubah 9: Ayat 18).

Demikianlah pentingnya iman. Iman menjadikan masjid hidup. Kegiatan-kegiatan masjid terlaksana, suara bacaan al-Qur'an menggema dan adzanpun demikian. Imanlah yang menjadi jalan penghubung kepada Allah. Sholat menjadi rutin sebagai kendraannya. Taqwa menjadi aktifitas untuk bertemu dengan yang diimani (Allah swt).








Akhirnya, orang yang beriman tidak ada rasa takut pada mereka kecuali kepada Allah, mereka tidak bersedih hati. Allah senantiasa bersama dengan mereka. Itulah orang-orang yang beriman.


 

Thursday, 9 September 2021

Memaksimalkan Shalat Jum'at Untuk Menggugurkan Dosa-Dosa Sepekan Seperti Daun-Daun Berguguran



Bersamaan dengan adanya manusia diciptakan, telah adapula kesalahan yang dilakukan. Kesalahan ini mula-mula dilakukan oleh Iblis laknatullah. Wujud kesalahan itu sangat membuat Allah murka dan tidak ada maaf. Tiada maaf karena iblis enggan untuk bertobat. Ia tetap berpegang pada prinsip kesombongannya. "Sombong". inilah kesalahan yang mengekalkan Iblis didalam kesensaraan abadi. Namun, kemahamuraan Allah menangguhkan kesensaraan itu dengan selesainya kehidupan manusia di muka bumi nanti. Iblis diberi tenggang waktu untuk menjerumuskan manusia pada kesalahan.  Agar manusia ditempatkan pada jurang yang sama dengannya.  Inilah wujud kesalahan pertama yang dilakukan makhluk kepada Allah sang pencipta. 

Adapun kesalahan kedua adalah kelupaan Nabi Adam as. Ia melupakan perjanjian yang telah diikrarkan untuk tidak memakan buah khuldi. Sikap itu mengundang kemurkaan Allah pula. Ia akhirnya diturunkan dari surga ke dunia. Murka Allah alhamdulillah tidak berujung lama. Ia bertobat dan tobatnya diterima sebab penyesalannya yang sangat atas kesalahan yang dilakukannya. 

Berdasarkan kedua pragraf di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kesalahan akan selalu ada, seiring keberadaan manusia. Siapa sih yang tidak pernah berbuat kesalahan. Tentu kita semua pernah yah. Tapi ingat yah, keberadaan kesalahan besar itu, hanya dapat ditebus dengan taubat nasuha (menyesal dan bertekad untuk tidak melakukannya). Taubat ini sebagai tebusan atas kesalahan besar yang dilakukan manusia. 

Mohon maaf, saya tidak terlalu detail membicarakan tentang kesalahan iblis laknatulllah dan Nabi Adam as. Tapi, paling tidak kedua pragraf di atas sudah menjadi pembuka jalan pikiran bahwa manusia pasti melakukan kesalahan.









Ada dua jenis kesalahan yakni besar dan kecil. Kesalahan ini disebut pula sebagai dosa besar. Misalnya, Syirik dan Sihir. Kedua dosa ini hanya bisa digugurkan dengan taubat nasuha. Jika kedua dosa ini tidak digugurkan sebelum meninggalkan dunia. Maka seseorang akan mendapatkan kesensaraan abadi sebagaimana kesengsaraan yang akan dialami Iblis nantinya. Itu sedikit contoh tentang dosa besar. 

Sedangkan dosa-dosa kecil, yang disengaja maupun yang tidak dilakukan dengan sengaja. Misalnya berkata jorok, dan jenis dosa kecil lainnya. Ini akan gugur dengan ibadah sholat yang kita lakukan dan istighfar kita. Makanya, nabi mengajarkan agar beristighfar setelah sholat, minimal tiga kali. Namun, kita perlu juga berhati-hati. Sebab, dosa-dosa kecil jika ditumpuk-tumpuk akan menjadi besar pula. Karenanya, sebagai bentuk ikhtiar, Nabi Saw mengikhtiarkan dosa-dosa dengan senantiasa beristighfar. Bahkan, Nabi saw bertobat setiap harinya 100 kali. 








Khususnya sholat, ada pengantar penggugur dosa yang kita lakukan. Yaitu wudhu, aktifitas ini jika dilakukan dengan sempurna maka dosa-dosa kecil kita sebagian akan digugurkan. Wudhu ini menjadi pembuka sholat. Adapun, diterimanya sholat kita bergantung pada kebersihan diri (tharah:bersih badan dan hati) baik bersihnya dari hadas kecil atau besar. Kedua hadas ini harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum seseorang melaksanakan sholat. Jika ini tidak dihilangkan maka sholat menjadi sia-sia. Misalnya seseorang harus mandi wajib terlebih dahulu ketika ia sedang junub sebelum berwudhu dan melaksanakan sholat pada umunya. 

Karena kita membicarakan tentang hari jum'at. Maka perlu diketahui bahwa pada saat sebelum sholat jum'at dilaksanakan, dianjurkan untuk mandi terlebih dahulu. Bahkan mandinya sebagaimana mandi wajib, detailnya telah saya jelaskan pada artikel dibawah ini.
Buka linknya di sini: https://www.aninlihi.com/2021/09/keutamaan-hari-jumat-dan-kerugian-bagi.html?m=1

Ketiga perkara ini, mandi wajib, wudhu dan sholat tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Ketiganya harus saling mendukung. Mandi dan wudhu berfungsi sebagai media untuk menyucikan seluruh anggota tubuh kita dari kotoran dan najis,  begitu pula dosa-dosa yang sifatnya gaib. Sedangkan sholat berfungsi sebagai penyuci dosa-dosa kita yang gaib dan menciptakan sikap yang terpuji. Sikap terpuji timbul dan dosa-dosa berguguran.  

Nabi Saw bersabda: "Dari Sahabat Abi Dzar ra. bahwasannya Baginda Rasulullah Saw. pernah keluar dari rumahnya ketika musim gugur. Beliau mengambil setangkai ranting pohon dan daun-daunnya langsung berguguran. Beliau berkata: "wahai Abu Dzar?., Abu Dzar menyahut, labbaik (aku siap sedia) ya Rasulullah!. Seorang muslim yang menunaikan sholatnya semata-mata karena Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran sebagaimana daun-daun ini berguguran dari rantingnya. (HR. Ahmad). 

Hadits ini cukup jelas bagi kita. Sholat mampu mengugurkan dosa-dosa kita bagaikan daun-daun yang berguguran. Tapi, ingat yah!. "Ikhlas". Lihat Qur'an surat al-Baiyyinah tentang perintah agar sholat dengan ikhlas. 








Jenis sholat tentu banyak, ada sholat sunnah dan ada yang wajib. Nah, yang wajib ini ada harian dan ada pekananan. Memang semuanya bermuara pada pengguguran dosa. Tapi, ada yang berbeda dengan satu sholat ini (jum'at). Sholat ini dilakukan dalam sepekan satu kali dan dilakukan mungkin hanya lebih dari satu jam, namun tahukah kita jika kita hubungkan dengan hadits yang saya sebutkan tadi, maka keuntungannya begitu besar. Dikerjakan hanya se jam lebih, tapi bisa menggugurkan dosa-dosa kita lebih dari sepekan. Simak hadits Nabi Saw di bawah ini.

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang berwudhu dengan sempurna kemudian mendatangi sholat jum'at lalu mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka diampuni dosa-dosanya yang dilakukan antara hari itu sampai pada hari jum'at berikutnya dan ditambah dengan tiga hari. Dan barangsiapa yang bermain-main kerikil, maka sia-sialah jum'atnya. (HR. Muslim).







Berdasarkan kedua hadits yang telah saya kemukakan. Menunjukkan bahwa sholat yang dilakukan hendaknya dengan ikhlas, wudhu dengan sempurna, konsetrasi ketika mendengarkan khutbah dan sholat sesuai dengan petunjuk yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw (sholat itu tentu berdasarkan pemahaman ahlinya.


Setelah beberapa hal ini terpenuhi dengan baik. Berguguranlah dosa-dosa yang kita lakukan selama lebih dari sepekan. Masya Allah. Tentu, saya, kita dan engkau pasti mau. Sungguh setelah kita mengetahui perintah ini. Maka marilah kita mencoba untuk memaksimalkan waktu yang singkat itu. Jangan kita sia-siakan. 

Selamat melaksanakan sholat jum'at. 



Monday, 6 September 2021

Fungsi Masjid Ala Nabi SAW Sudahkah Diikuti: Menuju Masjid Solutif



Nabi Muhammad Saw telah mengetahui keutamaan membangun masjid. Karenanya beliau memberi motivasi bagi orang-orang yang membangun masjid. Beliau bersabda:


"Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan baginya semisal itu di surga." (HR. Bukhari, no 450 dan Muslim no 533). Demikian pula dalam Hadits Ibnu Majah. "Barangsiapa membangun masjid Allah di bumi, walaupun hanya seperti rumah burung belibis pasir, maka akan Allah bangunkan satu rumah baginya di surga." (HR. Ibnu Majah, no.73). 

Sungguh sangat senang hati ini jika kita dibangunkan sebuah rumah di surga. Jangankan rumah, dapat emperan surga saja kata sebagian orang sudah sangat senang.

Termasuk motivasi ini bagi yang terlibat dalam pekerjaan masjid. Kalau masjid dalam hadits ini dipahami sebesar rumah burung, tentu itu seuatu yang mustahil. Jadi, hadits ini dapat kita pahami sebagai konstribusi kita terhadap pembuatan masjid walaupun sedikit. Nah, ganjaran yang sedikit itu dibalas dengan  dibangunkan sebuah rumah. Asalkan kita ikhlas dalam bekerja. Demikian barangkali yang saya pahami tentang hadits ini.

Namun, perlu diketahui bahwa capaian rumah di surga tidak bisa didapat hanya karena sudah membangun masjid. Tetapi, butuh keikhlasan dan menekan riya. 

Kalau kita lihat hadits ini. Kita wallahu 'a'lam barangkali bisa menganalisis hadits ini kepada pemikiran yang lebih dalam lagi. Ada dua kata yang saya garis bawahi yakni "Rumah" dan "Surga". Bicara rumah, itu bicara tempat berdiam diri dan bicara surga bicara tentang ketenangan diri. Artinya, masjid berfungsi sebagai tempat untuk memberikan ketenangan. Ketenangan ini muncul dari hasil spiritual yang dilakukan oleh seorang hamba di masjid. Berzikir, Sholat dan Membaca al-Qur'an. Ketiga aktifitas ini merupakan alat komunikasi langsung kepada Pemilik Masjid. Sebab, sang pemilik itulah yang memberi ketenangan jiwa pada tamu yang datang berkunjung ke rumahnya.








Tahukah kita bahwa masjid itu rumah sang pencipta yang penuh berkah dan yang penuh kesejukan. Maka yang membangun maupun yang menjadi tamu Allah di Masjid pasti juga diberi keberkahan dan ketenangan. Jika, kita ingin membahas masalah kampung, Desa, Kecamatan, bahkan negara. Di Masjid jauh lebih cocok. Pembicaraan kita didalamnya menjadi berkah dan hasilnyapun juga bisa menjadi berkah. Karenanya tercipta negara, kota, kabupaten, atau kampung yang baldatun toiyyibatun warabbun ghafuur. Negara aman, damai dan sejahtera. Mereka menjadi orang-orang yang berani dan tanpa rasa takut. 

اِنَّ الَّذِيْنَ قَا لُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَا مُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَ لَّا تَخَا فُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَ بْشِرُوْا بِا لْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.""
(QS. Fussilat 41: Ayat 30)







Membangun masjid telah menjadi rencana utama Baginda Nabi Muhammad saw. Olehnya itu,  ketika beliau hijrah ke Madinah aktifitas pertama yang dilakukan nabi adalah membangun masjid. Pikiran ini memberi pengetahuan bagi kita bahwa masjid adalah ujung tombak peradaban atau pusat peradaban besar bagi kemajuan umat Islam. Ditempat inilah segala urusan umat dibahas dan dibicarakan. 

Lantas bagaimanakah fungsi masjid ala nabi itu?. Apakah hanya sekedar sebagai tempat ritual semata sebagaimana yang sudah saya uraikan di atas?. Tentu tidak hanya itu. 

Nabi menjadikan masjid sebagai wadah multi fungsi. Tentu, fungsi yang dimaksud sangat berkaitan dengan kebaikan umat yang diayomi. Hal ini dapat dilihat dari proses yang dilakukan nabi didalam masjid saat beliau membangun Negara Madinah. Adapun beberapa fungsi masjid  ala Nabi saw adalah sebagai berikut:




1. Tempat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Masjid sebagai tempat menemui Allah. Melakukan segala aktifitas ibadah spiritual.


2. Tempat pendidikan. Maksudnya tempat untuk menerima pengajaran Islam dan bimbingan yang berkaitan dengannya. 

Melihat fenomena masjid di Indonesia dan khususnya Maluku. Walaupun sebagian masjid sudah membuat kajian hadits, fiqih, tafsir, aqidah, tajwid dan ilmu lain yang mendukung kemajuan pendidikan Islam bagi masyarakat dengan model ceramah atau kajian ilmiah seperti seminar, tabliq akbar dan halaqoh-halaqoh. Namun, kegiatan seperti ini belum maksimal dilakukan. Bahkan ada yang tidak melakukan kegiatan seperti ini sama sekali.

Pengurus masjid kelihatannya tidak kreatif melakukan kegiatan untuk mencerdaskan jamaah dan masyarakat disekitar masjid. Padahal, dana yang dimiliki banyak dan bisa diolah dengan mendatangkan para pakar untuk memberi kajian-kajian ilmu agama. Jelas dipengumuman sebelum khutbah jum'at. Ada yang dananya 50, 100, 200 juta bahkan 1 milyar. Tapi, menghidupkan kajian-kajian Islam di masjid kok begitu susah. 

3. Balai Pertemuan dan Tempat untuk Mempersatukan berbagai unsur kabilah dan sisa perselisihan pada masa jahiliyah.

Kita tahu bahwa Indonesia memiliki banyak pulau, beragama suku, daerah dan kampung. Konflik suku dan kampung sering kita saksikan terjadi. Kalau di Maluku ini bukan hal tabu lagi. Bahkan senyawa lingkungan dan karakter orang maluku hampir mirip dengan kondisi sosial arab dahulu. Sebagaimana pada masa arab lampau, maluku juga sering konflik antar suku dan kampung. Padahal notabenenya suku dan kampung itu ada hubungan persaudaraan. Baik saudara dalam rumpun suku maupun saudara seaqidah (sesama muslim).
Untuk menyelesaikan konflik semacam ini sebenarnya bisa dilakukan musyawarah damainya di masjid. 

4. Tempat pengatur segala urusan dan sekaligus menjadi gedung parlemen untuk bermusyawarah dalam menjalankan roda pemerintahan. 
Benarlah bahwa Islam itu mengurus kemaslahatan umat dari yang terkecil hingga yang terbesar. Sayangnya ada oknum bejat ingin memisahkan antara hubungan negara dan masjid. Negara tak usah dibahas di masjid. Masjid khusus tempat ibadah doang, ritual doang, dan tempat buang dosa. 

Pantas saja negara susah diurus kesejahteraannya, kebagusan ekonominya, kemakmuran rakyatnya, dan kedamaian negaranya. Pantas saja rakyat ditindas dan pemimpin difitnah. Memisahkan masjid dan negara itu perkara bahaya. Apalagi membenturkan ulama dan negara. Jadi, sudah saatnya mengembalikan ruh musyawarah parlemen dalam masjid. Kan kalau di masjid berbohong pasti takut dosa. Sebab, masjid itu punya sugesti kuat pada kenyamanan hati. Ruang berbohong hanya pada mereka yang munafik. 

5. Tempat tinggal orang-orang muhajirin yang miskin, yang datang ke Madinah tanpa memiliki harta, tidak mempunyai kerabat, dan masih bujangan. 

Masjid menjadi sarana bagi orang-orang miskin. Patut diacungi jempol jika ada pengurus masjid yang mampu mengelola keuangan masjid dengan menyedekahkan makanan kepada orang-orang miskin yang ada disekitar. 

Luar biasa Masjid Joko Karyan, patut diberi apresiasi. Patut dicontohi. Kas masjid selalu nol. Pantas saja. Uangnya selalu diputar untuk kepentingan masjid dan fasilitas penyenangan jamaah. Tamupun dibuatkan penginapan, bahkan ada yang dari jauh dipersilahkan tinggal dipenginapan masjid itu gratis, makan juga gratis dan sampai pulangpun dibelikan tiketnya. 

Apagunanya masjid megah, segala fasilitas masjid sudah terpenuhi, uang kasnya miliaran, tapi banyak masyarakat yang ada disekeliling masjid kelaparan dan tak punya tempat tidur. Lebih aneh lagi, kalau uang masjid dikorupsi hanya untuk kepentingan pribadi pengurus masjid. Kasihan. 

Saya sangat berharap fungsi masjid ala Nabi saw ini dilakukan. Jangan dulu dalam ruang lingkup negara. Coba diawalilah dari kampung-kampung, dusun-dusun, desa-desa, kecamatan-kecamatan, kabupaten-kabupaten dan kota-kota. Jadikan masjid sebagai tempat kita untuk menimba ilmu, bermusyawarah untuk kemajuan daerah, dan membantu meringankan beban fakir miskin serta membantu kekurangan masjid-masjid lainnya yang ada disekitar masjid kita. Jangan seakan-akan masjid ini dan masjid sana tidak saling membantu. 






Setelah kita melihat beberapa fungsi masjid ala nabi ini. Barulah kita sadar, bahwa pengurus masjid dituntut kreatif dalam mengelolanya. Kreatifitas itu  menjadi bentuk motivasi bagi jamaah untuk memakmurkan masjid. Apalagi kita dengar masjid sekarang ini memiliki banyak uang. Teman-teman pasti dengar sendiri ketika uang kas masjid itu dilaporkan. Ada yang ratusan juta, bahkan miliaran. Masjidnya sudah mewah. Namun, kasihan, minim kajian keagamaan, kurang manajemen pengelolaan keuangan, pengelola tidak peka terhadap pentingnya pemakmuran masjid dengan melakukan beragam kegiatan dan lain sebagainya.

Semoga kita bisa berkaca dari ide Nabi saw ini dan menjadikannya sebagai contoh dalam membangun perdaban umat sekarang ini. Mulai dari masjid dan berakhir dari masjid.  

 

Saturday, 4 September 2021

Pembagian Waqaf dalam Al-Qur'an: Agar Tidak Sembarangan Berhenti saat Membaca ayat




1. Waqof Tam

Tam secara bahasa berarti sempurna. Artinya, waqof tam adalah waqof yang lazim atau diharuskan untuk berhenti apabila ayat telah dibaca sempurna. Baik dari segi lafadz ataupun maknanya. Kemudian dilanjutkan pada ayat berikutnya.

Contoh Waqaf Tam. Surat An-Nashr. Berlaku pula untuk surat lainnya. Surat ini hanya contoh saja.

اِذَا جَآءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَا لْفَتْحُ 
وَرَاَ يْتَ النَّا سَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَا جًا 
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَا سْتَغْفِرْهُ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ تَوَّا بًا

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan," "dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah," maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat." (QS. An-Nasr 110: Ayat 1-3)

Setelah membaca ayat 1 sampai akhir kalimat, lalu berhenti. Kemudian lanjut pada ayat 2 dan seterusnya.




2. Waqof Kafi (Cukup)

Waqaf kafi maksudnya adalah waqof yang diperintahkan untuk  berhenti pada suatu kata yang sempurna maknanya namun ada hubungannya dengan kalimat/ayat berikutnya secara makna tetapi tidak secara lafadz. Kemudian ibtida’ (dimulai) dari kata setelah kata yang diwaqafkan.
Contoh:
Al-Baqarah: 6-7
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (6) خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ...

Apabila kita waqaf di akhir ayat 6 dan ibtida’ (dimulai) di awal ayat 7 termasuk kafi. Kedua ayat ini sama-sama membahas tentang kriteria orang kafir namun secara gramatikal ayat 6 tidak berhubungan dengan ayat 7.



3. Waqof Hasan (Baik)

Waqaf hasan maksudnya adalah waqof yang memerintahkan kita untuk berhenti pada suatu kata yang sempurna maknanya namun ada hubungannya dengan kalimat/ayat berikutnya secara makna dan secara lafadz. Kemudian ibtida’ (dimulai) dari kata setelah kata yang diwaqafkan. Contoh:

Al-Fatihah 2-4
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4)

Apabila kita waqaf di akhir tiga ayat di atas termasuk waqaf hasan. Ketiga ayat di atas semua berisi sifat Allah swt dan ayat 3 dan 4 adalah naat/shifat dari kata “Lillah”.


Contoh lainnya Al-Humazah 1-2:

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ (1) الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ (2)

Waqaf  pada akhir ayat 1 surat Al-Humazah termasuk hasan karena sudah sempurna makna dan karena ayat 2 merupakan penjelas.




4. Waqof Qobih

Waqaf qabih adalah berhenti pada bacaan secara tidak sempurna maknanya dan tentunya masih ada hubungannya secara lafadz dan makna dengan kata/kalimat berikutnya. Waqaf ini harus dihindari karena bisa merusak makna dan maksud dari ayat tersebut. Kalau kita memahami bahasa Arab tentunya akan mudah untuk menghindari waqaf ini. Bagi yang belum memahami bahasa Arab hindari waqaf di huruf jar, mudhaf, fiil yang belum ada failnya, mubtada, dll.



Contoh:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا

Bila kita berhenti di kata “La yastahyi” ini merupakan waqaf qabih karena menyipati Allah dengan sifat tercela dan maknanya akan jelas bila diwashalkan.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ....
Contoh lainnya bila kita waqaf pada kata “illa” atau “laha”. Bila kita waqaf di kedua kata tersebut akan menimbulkan kerancuan makna.





Lalu bagaimana jika ada kata yang tidak sempurna maknanya tapi ada di ujung ayat? Kalau berada ada di ujung ayat, maka berhenti saja. Akan tetapi, kita harus melanjutkan ke kata berikutnya. Artinya kita tidak boleh berhenti di kata yang tidak utuh maknanya dan tanpa melanjutkan ke ayat berikutnya. Contoh:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْالَّذِيْنَ  (4) هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ (5)
Boleh berhenti di akhir ayat 4 karena ujung ayat walau belum utuh maknanya. Namun, tidak boleh berhenti di ayat 4 tanpa melanjutkan bacaan ke ayat berikutnya karena akan merusak makna.

Mengenai tanda Waqof bisa dibaca pula disini. 
https://www.aninlihi.com/2021/08/tanda-tanda-waqof-dan-pengertiannya.html?m=1 dan Contoh Waqofnya disini. https://www.aninlihi.com/2021/08/contoh-contoh-waqof-supaya-mudah.html?m=1.



Demikian beberapa pembagian Waqof yang bisa anda pelajari dan praktekkan. Wallahu A'lam.


Thursday, 2 September 2021

Keutamaan Mandi, Wudhu dan Shalat Jum'at serta Kerugian Bagi yang Tidak Memperhatikannya

Hari jum'at adalah pimpinan para hari disetiap ahadnya.  Hari ini menjadi hari yang sakral dan istimewa bagi masyarakat-masyarakat pedesaan dan kampung. Kata orang-orang tua kampung "hari jum'at tidak boleh ke hutan, tidak boleh naik pohon, tidak boleh memotong, menebang, tidak ngebut dengan kendraan baik motor atau mobil, dan lain sebagainya. 





Pokoknya hari jum'at dihargai, dihormati dan dimuliakan. Terutama disaat sebelum sholat jum'at dilaksanakan. Tidak menganggu hari jum'at dengan aktifitas kebun. Masyarakat kampung bahkan biasanya libur beraktifitas untuk menghormati kesakralan hari jum'at. Begitulah sedikitnya keistimewaan hari jum'at bagi masyarakat perkampungan. 


Mengistimewakan hari jum'at lebih dahulu telah dibahas didalam Islam. Bagi Islam hari jum'at sungguh memiliki keutamaan, keistimewaan dan kebaikan. Sehingga pada hari itu dianjurkan untuk memperbanyak sholawat didalamnya. Sholawat ini menjadi aktifitas penting yang harus dilakukan pada hari jum'at. Bahkan menjadi rukun khutbah pada hari jum'at. Tanpa sholawat, khutbah jum'at, bahkan sholat jum'at menjadi gugur. 




Perintah sholawat ini ayatnya jelas dan sering dibaca oleh khatib ketika menyampaikan pesan dakwah di atas mimbar. Disaat khatib naik mimbarpun juga diantar dengan ayat ini dan sholawat.

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56).

Ayat ini berisi ajakan kepada seluruh jamaah yang berada didalam masjid untuk membaca sholawat. Memberitahukan bahwa Allah dan para malaikatpun bersholawat kepada Nabi Muhammad saw. 

Saking seringnya dibaca, ayat ini akhirnya menjadi populer, bahkan ada yang sudah menghafalnya. Bagaimana tidak, setiap khutbah pasti dibaca, bahkan sampai pada kalimat ya aiyyuha ramai-ramai jamaah yang ada didalam masjid mengucapkan sholawat kepada nabi. Jadi, wajar ayat ini dihafal oleh sebagian jamaah dan mungkin seluruhnya. Menariknya, sholawat kita sampai kepada nabi Muhammad Saw. Bayangkan, betapa senangnya hati ini jika sholawat kita itu Nabi Saw membalasnya.





Selain perintah untuk memperbanyak sholawat. Pada hari jum'at seseorang dianjurkan mandi, bahkan nabi menyatakan mandi sebelum jum'at termasuk wajib.

Dari Abu Sa'id al-Khudry ra. Bahwasannya Rasulullah Saw bersabda:" Mandi Jum'at wajib bagi setiap orang yang telah dewasa. (HR. Bukhari dan Muslim). 

Maka yang sudah dewasa harus mandi sebelum berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat jum'at. Namun, sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa mandi pada hari jum'at itu sunnah menurut pengkajian dari hadits dan al-Qur'an yang mereka pahami. Jika dikerjakan mendapat pahala, sebaliknnya tidak diamalkan tak berdosa. Tapi, setidaknya kita bisa memahami bahwa mandi pada hari jum'at termasuk perkara penting dan wajib sebagaimana wajibnya mandi ketika junub. Sebab, Nabi Saw memerintahkan untuk mandi sebelum sholat jum'at dilaksanakan.

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Rasulullah Saw bersabda: "Apabila salah seorang diantara kalian mendatangi sholat jum'at, maka hendaklah ia mandi. (Hr. Bukhari dan Muslim). 

Nabi Saw., pertegas bahwa mandi pada hari jum'at tidak hanya sekedar membasahi badan. Tetapi, mandi layaknya seperti orang yang telah junub. Nabi Saw bersabda. 

"Barangsiapa yang mandi pada hari jum'at, seperti mandi janabah, kemudian ia segera pergi ke masjid dan disana belum ada orang, maka seakan-akan ia berkurban seekor onta. Barangsiapa yang datang saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban seekor lembu. Barangsiapa yang datang saat ketiga, maka seakan-akan ia berkurban seekor domba. Barangsiapa yang datang saat keempat, maka seakan-akan ia berkurban seekor ayam jantan (jago). Dan barangsiapa yang datang pada saat ke lima, maka seakan-akan berkurban sebutir telur. Apabila sang imam datang untuk berkhutbah, maka datanglah para malaikat untuk mendengarkan khutbah. (Hr. Bukhari dan Muslim). 

Diperintahkan untuk mandi seperti mandi janabah sebelum ke Masjid. Menunjukkan pentingnya mandi sebelum shalat jum'at dilaksanakan. Ini menjadi salah satu anjuran selain berwudhu. 

Dalam hadits itu meneranggkan tentang betapa besar keuntungan orang yang datang ke masjid di awal waktu. Seseorang yang memperhatikannya mendapatkan nilai pahala dan ganjaran ibarat unta yang diikorbankan. Sementara yang terlambat mendapat ganjaran sedikit sekali. Orang yang datang di awal waktu adalah pemenang juara pertama yang berhak menerima banyak hadiah atau berhak menerima piala yang besar dan mahal. 

Jika keuntungan ini terlihat seperti uang satu miliyar, dua atau tiga. Maka orang akan berebut memakmurkan masjid dan selalu datang tepat waktu. Sepertinya pikiran dan keinginan terhadap hasil yang banyak sudah menjadi keinginan yang lumrah. Kalau pedagang dan pengusaha pasti paham. Yang lebih paham lagi mungkin ibu-ibu. 


Adapun keistimewaan lain bagi orang yang mandi, tentu sangat disenangi orang. Bahkan sikap ini bagian dari rasa penghormatan. Betapa senangnya orang yang berada disamping kita. Melihat kita bersih, suci dan rapi. Apalagi pakaian kita diluluri pula dengan minyak wangi, maka akan semakin disenangi. Buka hanya manusia, malaikat dan Allahpun juga ikut senang. Nah orang yang menyucikan diri kata Nabi Saw, sebagaimana disebutkan dari Salman. Nabi bersabda:

"Seseorang yang mandi pada hari jum'at dan bersuci sesuci-sucinya, terus memakai minyak wangi atau memakai harum-haruman yang ada di rumahnya. Kemudian keluar untuk melaksanakan sholat jum'at dan tidak memisahkan antara dua orang yang sudah duduk. Lantas sholat sebagaimana yang telah ditetapkan. Kemudian ketika sang imam berkhutbah ia diam dan memperhatikan, niscaya diampunilah dosa-dosa yang dilakukan diantara hari itu dan hari jum'at berikutnya. (HR. Bukhari).

Hadits ini memberi petunjuk kepada kita bahwa mandi bukan satu-satunya perkara yang harus diperhatikan. Tetapi, menyucikan diri dengan wudhu juga harus diperintahkan. Bahkan keduanya merupakan perintah ibadah yang seiring sejalan. Mandi tersempurnakan kesuciannya dengan wudhu. Artinya, mandi tambah wudhu membuat seseorang semakin bersih dan suci. Namun, wudhu harus dilakukan dengan sempurna, baik dan tertib. Nabi bersabda.

Dari Abu Hurairah ra. berkata Rasulullah saw. "Barangsiapa yang berwudhu dengan sempurna kemudian mendatangi sholat jum'at lalu mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka diampunilah dosa yang dilakukan antara hari itu sampai pada hari jum'at berikutnya dan ditambah dengan tiga hari. Dan barangsiapa bermain-main kerikil maka sia-sialah jum'atnya. (Hr. Muslim). 

Mandi dan wudhu dua perkara yang sangat memberi keuntungan bagi seseorang yang melakukannya. Nabi bersabda.

Dari Samurah ra. berkata, Rasulullah Saw bersabda: "barangsiapa yang wudhu pada hari jum'at maka beruntunglah ia pada hari itu, dan barangsiapa yang mandi maka mamdi itu lebih baik baginya. (Hr. At-Tirmidzi). 

Betapa pentingnya menyucikan diri pada hari jum'at dengan mandi dan wudhu. Dosa-dosa terampuni karena berguguran kena mandi dan wudhu. Seluruh anggota badan bersih dari kotoran dan najis lainnya. Bahkan hati ikut tersucikan karena mandi dan kesempurnaan wudhu.

Berdasarkan penjelasan ini, maka, mandi dan wudhu serta konsentrasi mendengarkan khatib saat khutbah menjadi pintu gerbang kesuksesan sholat jum'at seseorang. Sebaliknya, gagal jum'at seseorang jika tidak membersihkan diri dengan baik dan tidak mendengarkan khatib dengan seksama. Betapa ruginya orang yang datang melaksanakan sholat jum'at, namun mereka bercerita dan bermain, mereka abaikan khutbah yang disampaikan oleh khatib. Taraf ini saja sudah bahaya. Apalagi sampai pada taraf meninggalkan sholat jum'at. Jika ini menjadi kebiasaan. Maka sangat fatal.

Sekilas saja tentang orang-orang yang memiliki kebiasaan meninggalkan sholat jum'at, bagi mereka akan dikunci oleh Allah hatinya sehingga kebenaran sulit masuk ke dalam relung jiwa dan hidayah Allahpun bisa menjauh. Nabi menyampaikan. 

Dari Abu Hurairah dan Ibnu Umar ra. Bahwasannya keduanya mendengar Rasulullah saw bersabda di atas mimbarnya: "orang-orang yang biasa meninggalkan shalat jum'at harus segera menghentikan kebiasaannya itu atau kalau tidak maka Allah akan mengunci hati mereka kemudian mereka termasuk orang-orang yang lalai." (Hr. Muslim).

Bahaya jika terkuncinya naik pada tataran yang disebutkan oleh Allah sebagaimana kedua ayat ini. 

صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُوْنَ 

"Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali."(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 18).


Tentu tidak ada yang bisa mengembalikan orang yang telah dikunci hatinya oleh Allah. Melainkan Dia pula yang bisa membuka kuncinya. Maka perhatikan dan bentuklah kebiasaan sholat jum'at. Jangan sia-siakan mumpung masih kuat dan sehat. Waktu tak akan kembali, ia akan terus berlalu seiring berputarnya bumi.