Friday, 22 January 2021

IMPLEMENTASI BHINEKA TUNGGAL IKA DALAM BINGKAI QUR’AN-HADITS DAN MULTIKULTURAL : KHUTBAH JUM'AT

 

Oleh: Anin Lihi



Jamaah Shalat Jum’at Yang Dimuliakan Allah swt

Memang tak bisa dipungkiri bahwa perpecahan telah terjadi sejak awal manusia diciptakan. Tapi, apakah ini yang diinginkan Tuhan dan fitrah keimanan manusia. Tentu bukan kalau kita baca Firman Allah swt. Dalam al-Qur’an kita temukan bahwa yang diinginkan Allah swt dan fitrah keimanan manusia sebenarnya adalah persatuan, kasih sayang dan cinta. Ketiga konsepsi ini hanya bisa diwujudkan melalui jalan ibadah yang benar. Dengan ibadah yang benar kita dapat memetik akhlak. Dengan akhlak persatuan dapat ditumbuhkan. Semua ini taqwa telah membalutnya. Maka karena taqwa kita dimuliakan dan memuliakan.

“Nabi Saw., bersabda: “Dari Muhammad bin Habib bin Kharrays al-Asriy dari ayahnya, sesungguhnya dia telah mendengar Nabi Saw., bersabda: Orang-orang muslim bersaudara, tidak ada kemuliaan bagi seseorang atas yang lain kecuali taqwa”. (HR. Tabrani, al-Mu’jam al-Kabir, jilid 4, h. 25)  Bukanlah hal-hal lain, tapi taqwa.  Karena itulah al-Qur’an hadir sebagai pengatur, penerang jalan supaya terwujud manusia yang baik dan benar, bertaqwa dan berakhlak dan menjiwai persaudaraan.

Ketika A’isyah ditanyai tentang perihal akhlak Rasulullah, dengan singkat A’isyah menjawab, “akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an. Nah, sekarang bagaimana caranya agar manusia mencapainya, Allah swt telah memberikan mesin penimbang yang kita sebut sebagai “akal”. Fungsi alat ini mengkalkulasi, menyaring tiap-tiap konsep, memilih dan memilah mana yang seharusnya dipelajari dan diamalkan. Tentu jika alat ini sudah digunakan dengan benar maka aksiologinya bisa terwujud pada manusia dan masyarakat yakni keselamatan dunia dan akhirat bersama dan kenikmatan dunia dan akhirat bersama. Akan ada pemahaman bahwa surga bukan milik person, bukan pula milik kelompok dan golongan tertentu. Tapi, milik semua masyarakat beriman dan bertaqwa. Begitupula kesejahteraan dan kedamaian di negara dan bangsa kita indonesia juga milik kita bersama.

Tuhan tidak menginginkan perpecahan, perkelahian, permusuhan. Olehnya itu, terjadinya perpecahan sebenarnya berasal dari kita sendiri, dari ego, dari hawa nafsu, dari kecenderungan mengikuti penyakit-penyakit hati, (sombong, angkuh, dengki, hasad, riya’, fitnah dan lain sebagainya). sifat-sifat jelek inilah yang menjadi jurang pemisah kebersamaan dan pemecah persatuan. Maka inilah penting yang harus diawasi dengan maksimal.

Jamaah shalat jum’at yang dimuliakan Allah swt

Tidak kurang bimbingan Nabi Muhammad saw., kepada kita, bahkan sampai pada taraf pemberian informsi ancaman. Sombong dan angkuh jangan, sebab ia menjauhkan engkau dari kenikmatan pribadimu dan kelompok masyarakat baik dunia maupun akhirat.  Dengki dan hasad jangan, sebab keduanya merusak dirimu dan orang lain, bahkan seluruh amal kebaikanmu hilang bagai kayu dan daun yang dilahap kayu bakar menjadi debu akhirnya habis diterbangkan angin dan karena keduanya pula engkau sakit dan menyakiti orang lain, sebab hasad dan dengki membuat perasaan dan jiwa mudah amarah. Janganlah fitnah sebab sama saja engkau telah membunuh saudaramu, bahkan bangkainya telah engkau lahap mentah-mentah hingga karenanya engkau akan saling merusakkan dan akhirnya bermusuhan dan berbunuh-bunuhan dengan sesamamu. Janganlah engkau mengkonsumsi yang haram, sebab itu menjadi jalan permusuhan, menjauhkan engkau dari Allah, malas untuk beribadah dan jasadmu didalamnya akan membusuk. Jadi janganlah hawa nafsu menjadi perahu yang ditumpangi.

Nabi kita Muhammad Saw., tentu kita pahami apa yang dikatakannya adalah pengajaran Tuhan dan  bukan hawa nafsunya. Karenanya apa yang tidak diingini Tuhan beliaupun tak menginginkannya. Jadi, jika Tuhan menginginkan persatuan, maka Nabi Muhammad demikian pula, karenanya Muhammad Saw., mengajarkan dari an-Nu’man bin Basyir bahwa Nabi bersabda:

 “Perumpaan orang-orang Mukmin dalam persahabatan, kasih sayang, dan perhatiannya bagaikan satu jasad, jika salah satu terasa sakit, maka semua anggota tubuhnya terasa sakit dengan gelisah (tidak bisa tidur) dan demam.” (HR. Bukhari, Sahih Bukhari, Jilid 2, Hal. 238).

Begitu besarnya persaudaraan dan persatuan. Saudara yang tersakiti menjadi beban pikiran, sakitnya menjadi sakit kita, demamnya menjadi demam kita, dan susahnya menjadi susah kita. Pantaslah Nabi Saw begitu tegas mengajarkan cinta sesama, “layu’minu ahadukum hatta yuhibbu liakhihi ma yuhibbu linafsihi” Tidaklah sempurna keimanan seseorang dari kalian, sampai kalian mencintai saudara kalian melebihi cinta kalian terhadap diri kalian sendiri” (Hr. Bukhari dan Muslim). Maka menjadi pincang iman kita lantaran memutuskan persatuan.  

Senada dengan sabda Nabi Saw., IAIN Ambon dalam Visi Misinya pada poin ke empat menghendaki seluruh masyarakat kampus supaya menghasilkan karya-karya pengabdian masyarakat yang berbasis multikultural, bertolak dari visi itu tentu tujuannya untuk mewujudkan Nilai saling menghormati, nilai saling menghargai, nilai toleransi, nilai persatuan, nilai kerjasama dan nilai solidaritas antara etnis. Maka fanatisme keduniaan harus dibuang sejauh-jauhnya. Fanatisme Suku, etnis, kedaerahan harus dibuang sejauh-jauhnya. Jika kita ingin al-Qur’an, hadits dan Bhineka Tunggal Ika dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Jamaah sholat jum’at yang dimuliakan Allah Swt

Indonesia bukanlah bangsa yang menyendiri, sebagaimana yang dikobarkan oleh eropa bahwa katanya “tidak ada yang setinggi jerman, katanya bangsanya minolya berambut jagung dan bermata biru. Bangsa Aria yang dianggapnya tertinggi di atas dunia, sedang bangsa lain tak ada harganya. Jangan berpaham seperti ini.  Yang namanya bangsa indonesia dan kaum muslimin semua telah mufakat semua buat semua, bukan buat satu orang, bukan juga untuk satu golongan, bukan untuk si kaya atau si miskin. Tapi memiliki kehendak akan bersatu, orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu. Itulah sebagian ungkapan sang pejuang (Bungkarno).

Soekarno, tak ingin ada klaim, saya suku yang hebat, kota dan kabupaten yang besar, kampung yang luar biasa dan dusun yang tinggi melebihi apapun di dunia ini. Menjadi hebat ia boleh, tapi sifat angkuh dan sombong harus dibuang jauh-jauh, karena sifat itu adalah akar dari segala kerusakan. Tuhanpun tak menyukainya.

Jamaah sholat jum’at yang di muliakan Allah Swt

Jadi yang kita ingin didalam negara dan bangsa kita, dalam kabupaten dan kota kita, dalam desa dan dusun kita dan dalam suku dan keluarga kita adalah penerapan undang-undang nomor 43 tahun 1958 dan Undang-undang nomor 24 tahun 2009. Yakni bangsa indonesia harus menyadari bahwa keragaman, baik suku bangsa, agama, ras, antar golongan, bukan merupakan unsur pemecah. Melainkan faktor potensi atau modal terbentuknya persatuan. Bangsa Indonesia harus menyadari bahwa semboyan Bhineka Tunggal Ika mendorong lahirnya persatuan dan kesatuan indonesia yang semakin kokoh. Karena pengalaman sejarah semangat kedaerahan hanya akan memecah belah persatuan sehingga mudah diperdayakan. Bangsa Indonesia harus menyadari sepenuhnya  bahwa Bhineka Tunggal Ika salah satu pilar demi kokohnya kehidupan berbangsa dan bernegara.

Konesp seperti inilah sebenarnya yang dikehendaki oleh Allah SWT.

$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ  

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat/49:13).

Dengan memakai nida Allah swt memanggil, menyeru dan menyampaikan kepada seluruh manusia bukan kepada satu kelompok, golongan, bangsa dan suku. Secara fitrah kalau kita pahami ayat ini memang penciptaan manusia menurut takdirnya diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bengsa. Namun, perbedaan suku bangsa bukanlah sebab perkelahian dan permusuhan. Akan tetapi, supaya kita bisa saling mengenal satu sama lain. Karena itu, seharusnya kita bisa saling mencintai dan menyangi. Merasakan bahwa kita lahir dari rahim yang sama yakni Ibu, setiap ibu pasti merasakan sakit yang sama. Kita yakin bahwa kita diciptakan dari unsur dasar yang sama yaitu tanah. Olehnya itu janganlah tanah yang kita pijak dan Tuhan yang menciptakan kita menjadi murka kepada manusia.

Dalam bangsa, kita harus saling menghargai, Islam, Kristen, Hindu dan Budha, jika dalam perkara-perkara sosial mestinya kita bergotong royong. Kita juga tak boleh merusak agama seseorang dan seluruh atribut simbol keagamaannya. Sebab, kalau itu terjadi, justru kita malah menjauhkan mereka dari hidayah Allah swt. Jadi, terapkan lakum diinukum waliyadin pada mereka yang berbeda agama dengan kita. Biarkan mereka merayakan hari-hari besarnya, tapi jangan kita ikut-ikutan merayakannya, janganpula kita merusak dan membuat kekacauan pada mereka. Hidupkan sikap berakhlak, niscaya dengan akhlak orang akan berbondong menuju Allah Swt. Terapkan nilai taqwa qur’ani, agar semua tau bahwa hakikat Islam sebenarnya seperti itu.

Adapun Muslim, dalam Agama kita adalah seaqidah, seiman dan seislam. Kita boleh berbeda suku, tempat lahir, marga dan keluarga. Namun, dalam aqidah kita harus bersatu. Nah ini yang harus di jiwai. Jangan karena sesuap  nasi, segelas teh, sederet pangkat atau jabatan dan secuil harta lantas rela mengorbankan saudara seaqidah, seiman dan seislam seagama kita. Apalagi seaqidah dalam satu bangsa, tentu kasih sayang dan cinta mestinya lebih kita tumbuhkan. Kalau yang lain lapar, maka yang lain ikut lapar, dan jika kenyang yang lainpun merasakan hal yang sama. Kita saudara seaqidah, seagama, sekeyakinan, seiman dan seislam yang menyembah Tuhan yang Maha Esa.

$yJ¯RÎ) tbqãZÏB÷sßJø9$# ×ouq÷zÎ) (#qßsÎ=ô¹r'sù tû÷üt/ ö/ä3÷ƒuqyzr& 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ÷/ä3ª=yès9 tbqçHxqöè? ÇÊÉÈ  

Artinya: Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S. Al-Hujurat/49:13).

 Maka rahmat Allah terletak pada persatuan, rahmat Allah terletak pada saling sayang dan saling cinta. Tanamkan budaya malu melakukan kerusakan kepada sesama, sebab kita nantinya ditertawakan. Takutlah menjadi pemecah belah, dan tumbuhkan jiwa Bhineka Tunggal Ika.

Friday, 19 January 2018

Disetiap Ketegangan DIA Terngiang

Tegang merupakan sifat yang mewakili perasaan takut akan suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia, misalnya ketika seorang nelayan atau pelayar menghadapi derasnya gelombang laut (ombak besar), atau ketika berada di dalam pesawat lalu pesawat seakan mau jatuh dan ketika berhadapan dengan preman yang memegang sebuah pisau  atau parang yang ingin menikam kita.

Dalam tulisan ini akan diulas pembahasan mengenai tegang dan kaitannya dengan tanda-tanda kebesaran Tuhan berdasarkan kisah perjalanan saya pada hari kamis tanggal 18 Januari 2018 kemarin. Namun penjelasannya ringan.

Pagi itu, saya hanya menyikat gigi dan membasuh wajah, sebab kurasakan badanku menggigil, maklum sudah hampir seminggu saya terkena seperti sariawan yang menggerogoti seluruh tenggorokanku, disertai  flu, sedikit batuk dan demam. Inilah mungkin yang di namakan penyakit komplikasi atau komplikasi kesehatan. Susah tidur tentu saya dapatkan, beberapa malam ini, hidung saya tersumbati oleh bekas-bekas ingus flu. Walau demikian, tetap dan harus saya berangkat ke Makaassar  untuk menyelesaikan studiku, setelah empat melakukan penelitian di Pesisir Barat Huamual Pulau Seram.

Ibuku yang sangat mencintai dan menyangiku, telah mempersiapkan bekalku, yang beliau isi di dalam sebuah dos sedang sebagai oleh-olehku ke Makassar, hiitung-hitung sebagai penghalang laparku nanti, dapat pula untuk mengurangi biaya hidupku di Makassar, apalagi ambal biasanya bisa bertahan lama, dan itu memang bagian dari makanan pokok kami. Itulah sebabnya, dahulu sebelum tahun 1999 pecah perang di Maluku, ada  kabar angin mengenai dunia  akan gelap katanya, mendengar kabar itu, masyarakat di sana (Seram) ramai membuat ambal. Ambal adalah sebuah makanan kering yang terbuat dari bahan pokok  ubi yang di keringkan.  Proses pengeringannya terlebih dahulu diparut setelah dicabut dari kebun, hasil parutan itu kemudian dibungkus dengan karung lima puluh kilo yang sengaja di belah supaya agak lebar, lalu  di gepe dengan alat yang di namakan kagepe (sebuah penjepit yang terbuat dari dua  papan kayu, di atasnya diletakan pemberat seperti batu, pemberat itulah yang membuat ubi parut itu cepat kering). Sedikit dari makanan itu saya bagikan ke Bapak Dedi teman saya, katanya ia menyukainya setelah pernah kubawakan dan mencobanya tahun lalu (2017), di kediamannya Samata (Gowa) Makassar.
Ubi ini biasa pula selain sebagai ambal dibuat juga sangkola (suami/kasoami), khususnya suku Buton, tapi di Maluku telah populer di kenal.

Dengan penuh semangat ibuku kemudian menggendong dos itu dan mengantarku ke pesisir pantai Amaholu menunggu speed boat, yang biasa kami gunakan sebagai tumpangan laut, yang menjadi penghubung perjalanan masyarakat Seram Barat ke Pelabuhan Tahuku, tepat di persinggahan itu juga terminal oto Hila.
Setelah meminta pamit dan mencium tangan ibuku yang kusyangi dan selalu kurindukan itu, nampak kesedihan yang menggerogoti hatiku, seakan beberapa bulan ini belum cukup melepaskan kerinduan saya padanya. Namun, saya tak ingin melanjutkan kisah kerinduan itu, sebab mataku tidak sanggup menahan air mata kerinduan yang selalu bercucuran. Kesedihanku disi lain bukan hanya karena kerinduan itu, akan tetapi, juga disebabkan oleh sedikitpun kebaktianku padanya belum banyak tercurahkan selama ini. Bagiku ibu adalah sosok tanda akan kebesaran Allah, sebab disisinya nampak surga, kasih sayangnya bagaikan kasih dan sayang Tuhan terhadap setiap makhluk-Nya.
Dengan itu di balik ketegangan akan kerinduan ada kebesaran Tuhan yang nampak di dalam raut wajah ibu tercinta. Itulah sebabnya, tak pantas ibu dibentak, tak pantas ibu diberikan kata kasar, dan tak pantas ibu dicela.

Karena spit itu sudah tiba, sayapun naik, sembari dalam hati, berdoa agar kami diberikan keselamatan selama dalam perjalan melewati Samudra Huamual, terutama ketika menghadapi laut semenanjung Tanjug Wayasel dan Tanjung Sial, berharap agar kesialan tidak berpihak pada kami hari ini. Bagaimana tidak, sementara gelombang laut begitu melampiaskan kemarahan, seakan binatang liar yang baru terlepas dari ikatannya.

Ditengah perjalanan, setelah meninggalkan tempat berlabuhnya spit yang memuat diriku sebelumnya, gelombang laut yang marah itu, menghantam speed kami, bunyi jendela kaca seakan ingin retak dan terhempas jauh dari gengamannya, speed  boat berbunyi kruk, krak, Semua orang di dalamnya pada tegang,  wajah mereka sedikit pucat seakan darah mereka terkumpul di jantung dan tak beroperasi. sayapun berdiri dari tempat duduk, menghampiri pintu belakang lalu duduk di samping ABK speed boat itu. 

Dalam ketegangan dan hantaman gelombang itu, kalimat-kalimat Tuhanpun mulai terbetik dalam hati, kesaksian akan Tuhan dan utusan-Nyapun terucapkan yakni syahadat begitupula shalawat. Berharap dengan kalimat-kalimat itu, Tuhan dapat memberikan kekuatan kepada kami dan perahu yang sedang kami tumpangi dari hantaman gelombang ngamuk itu, setidaknya, dengan doa itu Tuhan dapat mengurangi ngamukannya.

Di akui, di tengah ketegangan akan ngamukan gelombang, ada tanda-tanda kebesaran Tuhan yang tak bisa disangkal oleh setiap manusia, bahasa istighfar, Allahu Akbar dan kalimat-kalimat lainnya, seakan muncul dengan sendirinya tanpa dipikirkan sebelumnya. 

Dengan kalimat-kalimat itu, alhamdulillah Dia memberikan kemudahan dan akhirnya di atas derasnya arus gelombang itu sampai pula kami di tempat tujuan (Pelabuhan Tahuku). Kamipun bisa turun dari speed itu dengan selamat dan mengemaskan barang-barang kami.

Setelah saya menyetor pembayaran speed itu, tidak lama menunggu sayapun menaiki bus yang telah menunggu kami sedari tadi, kanek bus berteriak-teriak memanggil penumpang agar seluruh kursi-kursi bus itu dipenuhi dan kami bisa cepat-cepat berangkat dan mobil lain bisa mengambil bagian, saya sengaja lebih memilih duduk di depan untuk menghindari sakit kepala dan mabuk (waspada), setelah penumpang memenuhi kursi-kursi bus itu berangkatlah kami meninggalkan terminal, melewati Mamua, Hitu dan Telaga Kodok serta Waiheru, tidak lama kemudian  sampailah kami di atas jembatan merah putih mendekati kota Ambon, sejak tadi memang saya memperhatikan kondisi alam sekitar, bagaimana membayangkan terjadinya banjir di Mamua dulu, karena ngamukan sungai di kampung itu sehingga menyebabkan rumah-rumah warga terendam bahkan hancur dihantam derasnya air sungai, bagaimana jika kita berada di tempat itu, sementar air sedang ngamuk seperti itu, tentu tegang pula kita menyaksikannya. Maka di balik peristiwa banjir itu, nampak kebesaran Tuhan tak bisa di sangkal pula.
Begitupula dari dalam mobil nampak keindahan alam pulau ambon yang dikelilingi laut biru membentang, pohon-pohon dan dedaunannya yang hijau yang dihiasi gedung-gedung tinggi dari jembatan itu. Nampak tanda kebesaran Tuhan yang tak bisa dibayangkan, ciptaan Tuhan yakni Laut, dan pepohonan hijau nan rindang di belakang dan di depan-depan rumah serta gedung-gedung yang dibuat manusia yang menjulang tinggi melahirkan kombinasi pemandangan yang menawan tak terelakkan. Terbayangkan bagaimana dengan gambaran surga Tuhan yang berlipat-lipat kenikmatan dari dunia mungkin lebih indah lagi dari lipatan keindahannya. Demikianlah dibalik tanda-tanda ciptaan itu ada kebesaran Tuhan Yang tidak dapat disangkal pula.

Tepat di jam 14 lebih 15 menit, sayapun di antar kakak saya Tamin ke bandara, sesampainya disana, iapun menemaniku sejenak sembari menunggu pesawat yang akan saya tumpangi, karena saya belum mengecek tiket, sejenak saya meminta kepadanya untuk menjaga barang-barang saya, sayapun ke loket kemudian menunjukan kode tiket yang saya beli dari Traveloka sebelumnya. pegawainya kemudian memeriksa tiketku, lepas itu, saya kembali menemui kakak Tamin lalu meminta pamit kepadanya untuk masuk ke ruang chak in serta menunggu pesawat di ruang tunggu. Lalu kakak Taminpun kembali.

Selang beberapa menit di ruang tunggu itu, pesawat yang akan kami naiki menuju Makassar itu tiba. suara pengumuman kemudian memerintahkan kami masuk ke pesawat itu melalui pintu no 4, dengan penuh kelembutan tiket kami diperiksa oleh pegawai pemeriksa tiket, lalu kami dipersilahkan masuk, peramugari-pramugari dengan penuh hormat dan kelembutan bahasanya mengarahkan kami duduk pada masing-masing kursi yang telah dipersiapkan. Meskipun kami sebenarnya sudah mengetahui tempat yang akan kami duduki, namun para peramugari itu tetap memperlihatkan kelembutan mereka untuk mengarahkan kami duduk di kursi-kursi itu. Bagi mereka itulah peraturan yang harus mereka penuhi. 
Melihat kelembutan itu, terlintas dalam benak saya bahwa itu suatu tanda kebesaran Tuhan sebagai yang maha lembut.

Tidak lama, kamipun berangkat, pesawat mulai lepas landas, meninggalkan bumi manise menuju angkasa raya. Nampak setiap raut wajah ketegangan, semua berdiam tanpa kata, seakan mereka tunduk bersimpuh untuk bermunajat, berharap agar mereka diberikan keselamatan dalam perjalanan di angakasa itu.
Ditengah ketegangan itu, tepat di pertengahan antara awan dan awan, terlintas dalam benak saya kalimat masya Allah, suatu kebesaran tidak bisa dibayangkan sebelumnya, Tuhan menciptakan langit berlapis-lapis, begitu indahnya langit yang dihiasi awan-awan berlapis-lapis pula. Langit di atas pesawat membiru, di bawah kamipun juga demikian, apakah mungkin warna biru itu dipengaruhi oleh pandangan mata atau karena jarak. Disisi lain, bagaimanakah manusia mampu membedakan batasan-batasan langit yang berlapis-lapis itu, sementara sepertinya tidak sedikitpun terlihat batas-batas langit, sebagaimana orang memberikan pembatas  kepada tempat shalat perempuan di dalam masjid.
Merupakan kebesaran Tuhan yang tiada satupun makhluk mampu membuatnya. Bagaimana mungkin di benak-benak insan nampak kesombongan, sementara dalam diri mereka selalu ada kekurangan.

Di sisi lain, bagaimana kalau pesawat itu jatuh di perjalanan, maka saat itulah kalimat-kalimat-Nya terngiang, istigfar, toiyyibah, syahadat, dan shalawat di ucapkan, bagaimana tidak awak kabing pesawat menyampaikan bahwa cuaca sedang buruk, dengan itu agar setiap penumpang selalu waspada, mendengar informasi ini ketegangan dalam setiap raut wajah penumpang semakin nampak. Namun alhamdulillah kuasa Tuhan memberikan kemudahan kepada kami hingga akhirnya kami dapat melewati cuaca buruk itu, kamipun sampai di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Itulah kuasa Tuhan, wajahnya terngiang dikala suasana tegang. Itulah sebanya se atei apapun manusia, ketika diperhadapkan dengan ketegangan, kalimat Tuhanpun pasti terucapkan, sebagaimana fira'aun mengucapkan pengakuannya akan kebesaran di saat ia menghadapi peristiwa tegang "amantu billahi Musa wa Harun" (saya beriman kepada Tuhannya Musa dan harun), atau ucapan oh my God atau ucapan lainnya.

pesan 
Demikianlah telah di kemukakan sedikit tulisan mengenai tegang dan kaitannya dengan tanda-tanda kebesaran Tuhan. Namun perlu di ingat, janganlah pada saat-saat tegang baru Allah di ingat, akan tetapi ingatlah Allah dalam setiap aktifitas yang akan dilakukan.

Saturday, 7 January 2017

Janganlah Menodai Tarekat

Islam adalah Agama yang menjelaskan beragam ibadah yang harus dijalankan. Ibadah sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ketika seseorang sudah menempuh jalan yang ditunjuk oleh agama, maka orang tersebut akan selalu terarahkan pada jalan yang tepat. Adapun jalan yang maksudkan pada pembahasan kali, yakni jalan yang sering dipahami oleh ahli-ahli tarekat. Pada konteks tasawuf jalan memilki makna tarekat. Kata ini kemudian dibahasa indonesiakan lalu dinisbatkan pada sebuah kumpulan, yang sekarang kita kenal tarekat. Adapun maksud dari Tarekat ialah cara yang di tempuh untuk mencapai maqam agar mencapai Ma’rifat Allah, Ma’rifat ini dapat di capai melalui dengan berbagai cara. Bisa dengan zikir, shalawat, selalu menghatamkan al-Qur’an, shalat tepat pada waktunya dan lain sebagainya.
Banyak sekali tarekat-tarekat yang berkembang di Negeri ini, yang dibentuk sebagai wadah tariqah untuk mencapai kesucian hati guna menembus cakrawala ke-Tuhanan. Setiap orang pasti menginginkan hal ina, namun sayangnya tidaklah mudah untuk dapat menembusnya dengan keadaan biasa-biasa saja. Ia membutuhkan kesucian hati dan kejujuran, dalam tarekat hanya itulah yang mampu membuka untuk menembus cakrawala ke-Tuhanan tersebut.
Ajaran dasar tarekat ialah kesucian hati dan kejujuran ini, hingga tidak heran tarekat-tarekat yang sesuai dengan syari’at dapat menelurkan orang-orang sakti, sebagaimana Syekh Yusuf al-Makassari, “dengan karomahnya, ia dapat membakar rokok di dalam air” yang mencengangkan saat itu. Dan karena kesaktian inilah, orang belanda mengatakan, seperti yang disampaikan oleh Ibu, Dr. Hj. Nurnaningsi, M.Ag. Katanya: kemerdekaan Indonesia terletak pada kehebatan tarekat bukan pada bambu runcing yang selama ini beritanya telah terkenal luas di kalangan masyarakat.
Ajaran-ajaran tarekat berpusat pada zikir, dua perbedaan umum yang melekat pada konsep ajaran zikir ini dalam tarekat, yaitu zikir Sir (dengan suara yang rendah sekali, hampir-hampir tidak kedengaran, bahkan ada yang tidak kedengaran sama sekali) dan zikir Jahr (dengan suara yang keras, bahkan ada yang sampai badannya ikut tergoyang). Persamaan umum pada zikirnya terletak dalam kalimat Tauhid lalilaha illah (tiada tuhan Selain Allah) atau biasa disebut (kalimat tahlil) dan lafaz Allah itu sendiri.
Namun pada perkembangannya, tarekat telah mengalami distorsi, hal ini dipengruhi oleh pemahaman terhadap tarekat yang tidak utuh, sehingga lahirlah pendapat, “saya biar tidak Shalat di  Masjid, duduk saja sudah shalat, atau ketika mendengar azan langsung sujud ditempat di mana dia berada”, jika pemahaman seperti ini yang di pahami, maka pemahaman ini adalah pemahaman yang keliru, yang semestinya perlu di luruskan, atau perlu di utuhkan dengan perbaikan bil hikmah wajaadilhum hiya akhsan. Sebab di anatara konsep syariat tidak dapat di pisahkan dengan hakikat, yang juga dipengaruhi oleh Tsawuf.
Sumber gambar: jalanakhirat.wordpress.com

Adapun, Tarekat dan tasawuf pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan. Sebab kedua ilmu ini memilik tokoh yang sama, tokoh-tokoh tarekat itulah tokoh-tokoh tasawuf. Dengan demikian, ajaran-ajaran yang ada dalam tarekat sedikit banyaknya memiliki kemiripan dengan tasawuf, yaitu “tazkiatun Nafs” penyucian diri yang memiliki hubungan dengan kesucin hati dn kejujuran atau dalam konsep Qur’an disebut Mukhlis, dengan itulah para ahli tasawuf semacam al-Ghazali juga memiliki banyak keahlian dan kemampuan melalui karomahnya. Padahal beliau adalah seorang Sufi bukan seorang tarekat.
Ada satu hal yang perlu di ketahui adalah, “dalam ajaran tasawuf maupun tarekat memiliki prinsip dasar, yaitu kesucian dan kejujuran, namun kedua hal ini dapat di capai dengan sempurna jika seseorang telah memposisikan dirinya pada kemampuan memperpadukan antara Syari’at dan Hakikat. Menjawab ini, dalam buku Hakikat tasawuf oleh Syekh Abdul Qadir Isa “ahli tasawuf mengatakan, janganlah kita mempercayai seseorang yang mampu berjalan di atas air, terbang di atas udara dan memiliki kelebihan lain sebelum kita mengetahui orang itu mengamalkan sunnah” artinya, mengamalkan ajaran Rasul dan al-Qur’an secara syari’at dan hakikatnya, sebagai pengamalan Iman, Islam, Ihsan atau tasdiqu bil Qalbi, wa Iqraru bil-Lisan dan Wa ‘Amalun bil ar-Kan.  bukan mendapatkan sedikit potongan pemhaman lalu mengatakan duduk-duduk sudah shalat, berdoa saja sudah shalat, shalat itu tidak perlu di Masjid atau yang lainya.
Dengan demikian, sebagai insan yang ingin mencari kedudukan menjadi insan kamil, maka sepatutnyalah merealisasikan perintah sebagaimana disebutkan dalam, (hadits sahih lighairihi riwayat Ibnu Majah  No.224.  “utlubul ilmi Faridhatun ‘ala kulli Muslimin” artinya: menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim. Setelah mengetahui hadits ini, maka tidaklah cukup bagi kita duduk diam dan tidak berusaha bangun untuk menuntut ilmu.

Maksudnya memperbanyak ilmu Agama yaitu Syari’at dan hakikatnya, tidak berhenti menuntut ilmu hingga kematian yang membatasinya, dengan berusaha mengamalkan ilmu yang telah di pelajari semaksimal mungkin.

Friday, 6 January 2017

DIFFERENCE OF THE BELIEVERS AND PEOPLE THAT WICKED (infidels) (PERSPECTIVE QS. Sajdah [32]).

Departing from a basic question, of paragraph 18 letter Sajda. "So Did those who believe such wicked people (unbelievers) ?, no-nonsense anyway this paragraph answer! of course, "they are not the same".
In the previous paragraph, paragraph 2 of the letter Sajda Similarly, Allah describes the "fall of the Qur'an is no doubt, (ie) of the Lord of the Worlds". This verse has relevancy with paragraphs 2 and 3 of the letter of al-Baqarah is "the book of the Koran that there is no doubt a clue to those who fear Him, to those who believe in the Unseen, perform prayers, and our sustenance partly mengifakkan give them ".
For people who have faith in his heart, then they will not hesitate one bit to say and defend the truth of the Qur'an, where all events diceritkan Qur'an they Imani. They believe that the Koran is the book of God, as the book of human mentor, who revealed to Muhammad

that is, those who believe, capable of conveying all the commands of the Koran, in order that the instructions of the Koran until dtelinga all creatures to follow or believe in the Qur'an and Pencitanya. At all for those who believe there is no sense of doubt, they are immune from the hoax sweet words any scientific, secularism, hedonism, pluralism Multiculturalism or isms others, for those who believe, all the isms that only a small part of science the least well studied, but bigger than it is to understand the Qur'an in depth. Isms were simply the product of penanding absoluteness of God (Allah) the Worlds, or no more than an ideology which mislead people who do not understand the histories of this ideology. The believer will say, that there is nothing absolute in addition to the absoluteness of God, which they believe from the guidance of the Qur'an.
While the wicked (disbelievers) see the Qur'an as artificial prophet Muhammad and alleged that Muhammad fetched Ngada referred to paragraph 3 of this Sajda letter "but why unbelievers say He (Muhammad) has fabricated ngadakannya (al- Koran) ". those people (Wicked / Kafir) that follows the steps satan, will be looking for reasons to reinforce their opinion that the Koran was made by Muhammad or look for other reasons that people do not believe in the Qur'an as a guide in guiding human , to later in the meeting will enjoy the beauty of God and entering, enjoying his surge, the brand will also be looking for a reason that the Qur'an is a book that contains a lie.
For unbelievers, even though God had said, as mentioned in the letter al-Baqarah verse 23 "if you doubt the Qur'an that we sent down to Our servant Muhammad, then make a single letter such as al-Qur'an, and Engage helpers if you are truthful "God then add it again with the letter l-Isra verse 88" say, in fact if humans and Jin come together to make the serup with this Qur'an, they will not be able to make a similar dengannnya , even if they help each other ". Strengthening this paragraph again Allah mentioned again in the letter al-Baqarah verse 24, "If you are not able to make it, surely you will not be able to make it".
The believer believes some of the above paragraph, as the altitude challenge the science contained in the Qur'an, challenging anyone he will not be able to write a paragraph that has the beauty of the writing, reading, grammar diversity and depth of meaning. But again people (wicked / infidels), keep their hearts for deception devil laknatullah insist that controls them, not impervious kebenarana al-Qur'an warns them, Allah said: "the real people orng Kfir, the same to them, Muhammad thou warn them or thou tudak pernigatan give, they will not believe, God has locked hearts and their hearing, their sight was closed and they will receive a severe penalty "they will always find ways to keep the whole man of truth al- Qur'an. for today I hope people find fault Koran obtain guidance. Because of my discussion of the difference of the faithful at the disbelievers (obviously) does not refer to a group keagmaan.
Conversely To mempekuat argument, people are unbelievers will say as in the continuation of paragraph 3 of the letter Sajda "No, the Koran is the truth (coming) from your Lord so that you may give warning to a people who have never been in visiting people who give a warning before thou, so they get a clue ". Furthermore, they also were faithful even when hearing the verses of the Koran as mentioned further paragraph, paragraph 15 letter Sajda, "those who believe in the verses of us, only those who, when dipernigatkan him (verses we ), they fall down prostrate and praising their Lord bertsbih nd they are not arrogant ".
By him who believe adrift of their belief in the truth of the Qur'an from God through the prophet Muhmmad, they are, let alone reading, studying, and living the Qur'an with the ability to examine the Koran. heard the verse, if there are people who deliver a warning of the Koran, they immediately hymn praising the greatness of God who has lowered the Qur'an glorious.

That bit of difference in those who believe and those who disbelieve in the Qur'an letter Sajda. May be useful.

PERBEDAAN ORANG YANG BERIMAN DAN ORANG YANG FASIK (KAFIR) (PERSPEKTIF QS. SAJDAH [32]).

Berangkat dari sebuah pertanyaan yang mendasar, dari ayat 18 surat sajdah. “Maka Apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)?, tidak basa basi lanjtan dari ayat ini menjawab! tentunya  “mereka tidak sama”.
Pada ayat sebelumnya, ayat 2 dari surat sajdah pula, Allah menjelaskan “Turunya al-Qur’an itu tidak ada keraguan, (yaitu) dari Tuhan seluruh Alam”. Ayat ini memiliki relefansi dengan ayat 2 dan 3 dari surat al-Baqarah yaitu “kitab al-Qur’an itu tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan mengifakkan sebagian rezki yang kami berikan kepada mereka”.
Bagi orang-orang yang dalam hatinya memiliki iman, maka mereka tidak akan ragu sedikitpun mengatakan dan membela kebenaran al-Qur’an, dimana seluruh peristiwa yang diceritkan al-Qur’an mereka Imani. Mereka yakin bahwa al-Qur’an adalah kitab dari Tuhan, sebagai kitab pembimbing manusia, yang diturunkan kepada Muhammad yaitu orang yang dipercayai, yang mampu menyampaikan seluruh perintah al-Qur’an, dengan tujuan agar petunjuk al-Qur’an itu sampai dtelinga seluruh makhluk untuk mengikutinya atau beriman kepada al-Qur’an dan Pencitanya. Sedikitpun bagi orang yang beriman tidak ada rasa ragu, mereka kebal dari tipuan kata-kata manis ilmiah apapun, Sekularisme, Hedonisme, Pluralisme Multikulturalisme atau isme-isme yang lainya, bagi mereka yang beriman, semua isme-isme itu hanyalah bagian kecil dari ilmu yang sedikitnya juga dipelajari, tetapi yang lebih besar dari itu ialah memahami al-Qur’an secara mendalam. Isme-isme itu hanyalah produk penanding kemutlakan Tuhan (Allah) semesta alam, atau tidak lebih dari sebuah ideology yang menyesatkan manusia yang belum memahami sejarah-sejarah faham ini. Orang yang beriman akan mengatakan, bahwa tiada kemutlakan selain kemutlakan Allah, yang mereka yakini dari petunjuk al-Qur’an.
Sementara orang-orang fasik (kafir) melihat al-Qur’an sebagai buatan nabi Muhammad dan menuduh bahwa Muhammad mengada-ngada sebagaimana disebut dari ayat 3 surat sajdah ini “tetapi mengapa orang kafir mengatakan Dia (Muhammad) telah mengada-ngadakannya (al-Qur’an)”. mereka orang (Fasik/Kafir) yang mengikuti langkah-langkah syetan, akan mencari alasan untuk menguatkan pendapat mereka bahwa al-Qur’an adalah buatan Muhammad atau mencari alasan lain agar orang-orang tidak meyakini al-Qur’an sebagai petunjuk dalam membimbing manusia, untuk kelak nantinya menikmati keindahan dalam bertemu Allah serta memasuki, menikmati surge-Nya, merek juga akan mencari alasan bahwa al-Qur’an adalah kitab yang mengandung kebohongan.
Bagi orang-orang kafir, meskipun Tuhan telah mengatakan sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 23 “jika kamu ragu terhadap al-Qur’an yang kami turunkan kepada hamba kami Muhammad, maka buatlah satu surat saja semacam al-Qur’an, dan ajaklah penolong-penolongmu jika kamu orang yang benar” Tuhan kemudian menambahkannya lagi dengan surat l-Isra ayat 88 “katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan Jin berkumpul untuk membuat yang serup dengan  al-Qur’an ini, mereka tidak akan bisa membuat yang serupa dengannnya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain”. Memperkuat ayat ini lagi Allah sebutkan lagi dalam surat al-Baqarah ayat 24 “jika kamu tidak mampu membuatnya, pasti kamu tidak akan mampu membuatnya”.
Orang yang beriman meyakini beberapa ayat di atas, sebagai tantangan ketinggian ilmu yang terkandung dalam al-Qur’an, yang menantang siapapun dia tidak akan mampu menuliskan satu ayat yang memiliki keindahan Tulisan, Bacaan, keragaman tata bahasa, dan kedalaman maknanya. Namun sekali lagi orang-orang (fasik/kafir), tetap hati mereka bersikeras karena tipuan iblis laknatullah yang menguasai mereka, tidaklah mempan kebenarana al-Qur’an memperingati mereka, Allah berfirman: “sesungguhnya orang-orng kfir, sama saja bagi mereka, engkau Muhammad beri peringatan atau tudak engkau beri pernigatan, mereka tidak akan beriman, Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup dan mereka akan mendapat azab yang keras” mereka akan selalu mencari-cari cara untuk menjauhkan seluruh manusia dari kebenaran al-Qur’an. untuk zaman sekarang semoga  orang-orang yang mencari-cari kesalahan al-Qur’an mendapatkan hidayah. Sebab pembahasan saya mengenai perbedaan orang beriman sama orang kafir (jelas) tidak merujuk pada satu kelompok keagmaan.
Sebaliknya Untuk mempekuat argumennya, orang yang berimana akan berkata sebagaimana dalam lanjutan ayat 3 dari surat sajdah “Tidak, al-Qur’an itu kebenaran (yang datang)  dari Tuhanmu agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum pernah di datangi orang yang memberi peringatan sebelum engkau, agar mereka mendapat petunjuk”. bahkan Selanjutnya merekapun yang beriman ketika mendengar ayat-ayat al-Qur’an sebagaimana disebutkan ayat lanjutan, ayat 15 surat sajdah, “orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat kami, hanyalah orang-orang yang apabila dipernigatkan dengannya (ayat-ayat kami), mereka menyungkur sujud serta bertsbih memuji Tuhannya dn mereka tidak menyombongkan diri”.
Olehnya orang yang beriman terpaut keyakinan mereka terhadap kebenaran al-Qur’an dari Tuhan melalui nabi Muhmmad, mereka itu, jangankan membaca, mendalami, dan menghayati al-Qur’an dengan kemampuannya meneliti al-Qur’an. mendengarnya ayatnya saja, jika ada orang yang menyampaikan peringatan al-Qur’an, mereka langsung bertasbih memuji kebesaran Allah yang telah menurunkan al-Qur’an yang mulia itu.

Itulah sekelumit perbedaan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang kafir dalam al-Qur’an surat Sajdah. Semoga bermanfaat.

Keharusan Menganut Islam Menurut Mantan Pendeta


Oleh: Sarwan Sarwan UR.
Menurut prof. Rev. David Benjamin Keldani, B.D. (Abdul Ahad Dawud)Seorang mantan pendeta katolik roma sekte uniate chaldean (1895), mengatakan "kembalinya saya ke islam tak lain karena hidayah Allah yg Maha Kuasa. Tanpa bimbingannya, semua pengetahuan, penelitian, dan usaha-usaha lain untuk menemukan kebenaran ini mungkin akan membawa kepada kesesatan. Begitu saya mengakui ke Esaan mutlak Tuhan, maka nabi Muhammad Saw pun menjadi contoh pola sikap dan perilaku saya".
Buku di bawah inilah penelitian seorang mantan pendeta, setelah dia meneliti bible, diapun  berkesimpulan bahwa Islam lah agama yg harus di anut seluruh umat manusia. kebenaran ajaran Islam yg di turunkan Allah kepada Muhammad seperti yang telah di paparkan dalam buku ini, menguak tentang kebenaran nabi Muhammad dalam kitab injil. Nabi Muhammad telah di akui dan dinubuatkan  dengan doa yesus/nabi isa as dalm kitab injil "aku akan meminta kepada bapa,dan ia akan memberikan kepadamu seorng penolong, supaya dia menyertai kamu selama-lamanya". Ini adalah argument yg tak terbantahkan dari peneliatiannya yg menguak misteri Muhammad dalam kitab Injil  ( mantan pendeta yaitu Abdul Ahad Dawud "Prof. Rev. Benjamin Keldani, B.D.").